Pages

Monday, September 23, 2013

Sekali Setrum, 'Lamborghini' Listrik Dahlan Iskan Bisa Digeber 300 Km


Jakarta - Saat ini mobil sport listrik baru pesanan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan sudah selesai. Sekali dilakukan charge/setrum pengisian listrik, mobil ini bisa digeber cukup jauh.

Si pencipta mobil listrik ini yaitu Dasep Ahmadi mengatakan, mobil sport listrik baru ini dilengkapi gear box yang benar-benar mirip Lamborghini asli.

"Itu sekali charge bisa menempuh sampai 300 km," ucap sang pencipta Dasep Ahmadi kepada detikFinance, Selasa (24/9/2013).

Dasep mengatakan mobil listrik sport berwarna kuning ini telah dikembangkan selama 6 bulan. Saat ini mobil listrik tersebut sudah nangkring di rumah dinas Dahlan yang berlokasi di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan.

Namun belum tahu kapan Dahlan akan memperkenalkan mobil listrik ini. Selo, diambil dari nama dari bahasa Jawa yang memiliki arti batu. Selain Selo, Dahlan juga mendukung pengembangan mobil listrik versi Alphard, city car, dan bus.

Dahlan Rogoh Rp 1,5 Miliar untuk Biayai Mobil Listrik 'Lamborghini'


Jakarta - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku membiayai sendiri pengembangan mobil listrik jenis sport car bernama Selo. Pengembangan mobil yang mirip desain mobil sport mewah Lamborghini ini menghabiskan dana Rp 1,5 miliar/unit.

"Itu Rp 1,5 miliar. Iya ini dana saya," ucap Dahlan kepada detikFinance di Kementerian BUMN Jakarta, Selasa (24/9/2013).

Dahlan mengatakan mobil listrik sport ini memiliki perbedaan dengan mobil listrik sport Tucuxi yang diciptakan oleh Danet Suryatama yang tak dilengkapi gear box. Sedangkan 'Lamborghini' sudah dilengkapi gear box dan memiliki kecepatan hampir serupa.

"Ya standar kurang lebih sama," jelasnya.

Dahlan tak mau berkomentar lebih jauh soal rencana memproduksi masal mobil listrik mewah ini, meskipun Dahlan tak menutup kemungkinan soal produksi massal. (Detik.Finance)

Skuadron Udara 11 TNI AU "The Flankers" tambah kuat


Jakarta - Skuadron Udara 11 Wing 5 TNI AU yang berkedudukan di Pangkalan Udara Utama TNI AU Hasanuddin, Makassar, tambah kuat. Jumat malam lalu (22/2) dua jet tempur Sukhoi Su-30 Mk2 Flanker tiba, mendarat di landasan pangkalan udara itu pada pukul 22.15 WITA.
Kedua Su-30 Mk2 itu tidak diterbangkan dari pabriknya, melainkan dibawa pesawat angkut raksasa Antonov An-124 bernomor penerbangan VDA 6132 yang dipiloti Vladimir Gorbunov, bersama 17 awak pesawat terbangnya.
Pesawat angkut itu terbang dari Bandar Udara Dzemgi, Rusia, pukul 00.30 UTC Rabu pekan lalu. Rute yang ditempuh Bandar Udara Dzemgi-Bandar Udara Ninoy Ag (Manila/Filipina)-Pangkalan Udara Utama TNI AU Hasanuddin, Makassar.
Saat tiba, kedua Su-30 Mk2 itu dalam keadaan dilepas sayap-sayap, dan radome radarnya agar muat di dalam ruang kargo An-124-100 itu. Setelah lengkap diturunkan semuanya, kedua pesawat tempur dengan riwayat penerbangan masih 0 jam terbang, baik untuk mesin ataupun struktur pesawat terbangnya, dirakit.
Kedua pesawat tempur TNI AU itu bagian dari enam tambahan Sukhoi Su-30 dan Su-27 yang dipesan lagi oleh Indonesia dari Rusia. Indonesia memesan varian Su-27 SKM dan Su-30 Mk2, karena Rusia menyesuaikan keperluan pembeli.
Jika semuanya lengkap, maka kekuatan Skuadron Udara 11 itu akan sebanyak 16 pesawat tempur. Sejak awal pada Maret 2003, Indonensia membeli seluruh penempur TNI AU itu dari pabriknya, KNAAPO (Komsomolsk-na Amure Aircraft Production Association) di Rusia.
Saat itu dua Su-27 SKM dan satu Su-30 Mk2 mendarat di Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi, Maospati, Jawa Timur. Kedatangan kali kedua seri Sukhoi yang memiliki kemampuan di atas F-15 Eagle atau pesawat tempur generasi 4 ini adalah pada 2009 dan 2010.
Menurut sumber, berlainan dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada umumnya, Rusia menjual produk-produk persenjataannya --terutama pesawat tempur-- dalam modul-modul terpisah, yang mengharuskan pembeli jeli dan cermat.
Masing-masing modul --termasuk sistem kesenjataan dan avionika-- itu dibeli secara terpisah dengan pelatihan terpisah pula. Persenjataan Sukhoi itu, sebagai misal, melalui proses yang berbeda dengan proses pembelian pesawat tempurnya. Ini yang menyebabkan selama beberapa tahun, Su-27 SKM dan Su-30 Mk2 TNI AU terbang tanpa dilengkapi peluru kendali dan persenjataan lain. (*)
Editor: Ade Marboen (Antara News)

Dua T-50i Golden Eagle TNI AU tiba


Kuala Namu, Sumatera Utara - Tekad TNI mewujudkan kekuatan esensial minimumnya pelan-pelan mulai terwujud, sejalan dengan kedatangan dua unit pesawat latih-taktis jet tempur T-50i Golden Eagle, di Pangkalan Udara Utama Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur, kemarin (11/9).
Kedatangan kedua "Elang Emas" ini dilakukan setelah menempuh penerbangan feri dari pabriknya, Korean Aviation Industries, di Sacheon, Gyeongsang, Korea Selatan, melalui Taiwan dan Filipina, sejak beberapa hari sebelumnya.
Adalah Panglima Komando Operasi Udara II TNI AU, Marsekal Muda TNI Agus Supriatna, yang menyambut kedua unit T-50i di hanggar Skuadron Udara 15 di pangkalan udara itu, demikian keterangan tertulis TNI AU.
T-50i yang potongannya sangat mirip dengan F-16 Fighting Falcon itu memang ditujukan menggantikan peran Hawk Mk-53 buatan British Aerospace, yang telah berdinas sejak pertengahan dasawarsa '80-an.
Secara kemampuan, T-50i Elang Emas yang menjadi "juara" menyingkirkan pesaingnya, Yakovlev Yak-130 Mitten (Rusia) dan Aermacchi M-346 (Italia) memang seolah menjadi "jembatan" antara tempur taktis, latih jet tempur, dan patroli terbatas, serang udara-darat dan udara-udara, menuju tempur strategis-taktis Sukhoi Su-27 Flanker series.
Sesuai dengan azazinya sebagai tempur taktis, kedua T-50i Golden Eagle --Indonesia menjadi operator pasti pertama internasionalnya-- diberi kodifikasi TT di sayap tegak pesawat tempur berukuran cukup mungil hasil kolaborasi KAI dengan Lockheed Martin (pengembang kini F-16Fightning Falcon).
Dengan begitu, kedua T-50i Golden Eaglealias Elang Emas yang diterbangkan penerbang uji KAI, Kwon Huiman, dan Lee Dong-kyo itu diberi kode tempur TT-5003 dan TT-5004. Dua angka pertama setelah huruf TT menunjukkan tipenya (T-50i), dan dua angka terakhir menunjukkan nomer urutnya.
Yang menarik, sesuai keterangan Dinas Penerangan TNI AU, sebelum menyentuh landasan pacu pangkalan penempur TNI AU itu, kedua Elang Emas itu dikawal di udara oleh pesawat-pesawat tempur yang akan dia gantikan, yaitu dua Hawk Mk-53 Skuadron Udara 15, membentuk Hawk flight. 
Pengawalan sekaligus penjemputan kehormatan itu dilakukan langsung Komandan Skadron Udara 15, Letnan Kolonel Penerbang Wastum dan second seater-nya, Mayor Penerbang Hendra. Masih didampingi di pesawat Hawk Mk-53 kedua, yang dipiloti Kapten Penerbang Gultom dan Letnan Satu Penerbang Yudistira.
Setelah bergabung di udara, keempat pesawat tempur TNI AU itu membentuk formasi kotak (box formation) dengan Hawk flight menjadi pimpinan penerbangan. Mereka terbang lintas dengan suara gemuruh mesin di udra hanggar dan kompleks Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi. 
Welcome home, Golden Eagle… Welcome to the club…  (Antara News)
Editor: Unggul Tri Ratomo

Tuesday, September 10, 2013

Dukung KTT APEC, Len Industri Siapkan WiMAX & Pemancar TV Digital


PT LEN Industri (Persero) menyatakan kesiapannya untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asian-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013 di Bali, pada 1–8 Oktober 2013.
Direktur Utama Len Industri Abraham Mose mengatakan dukungan yang diberikan melalui produk inovasi unggulan perseroan, di antaranya WiMAX dan pemancar TV digital. 
Menurutnya, Len akan berkontribusi dalam menyediakan perangkat layanan pemancar yang akan menyiarkan informasi langsung terkait dengan penyelenggaraan KTT APEC 2013 bersama dengan media partner terpilih.
“Len akan menggunakan teknologi pemancar TV digital dan WiMAX frekuensi 3,3–3,5 GHz yang merupakan hasil pengembangan dari kami,” tuturnya dalam keterangan resmi, Selasa (10/9/2013).
Len dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di dunia broadcasting, khususnya pemancar TV analog. Lebih dari 60% pemancar TV analog dinilai telah berhasil mengudara dengan baik.
Sejalan dengan arahan dari Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengenai penggunaan TV digital, Len kini telah siap dengan inovasi tersebut.
Produk pemancar TV digital Len memiliki keunggulan di antaranya dapat melakukan kontrol dan monitoring menggunakan remote, konstruksi perangkat yang modular, ukuranhardware yang tidak terlalu besar, serta apabila diperlukan dapat pula menggunakantouch screen dan dual exciter.  (ra) (Bisnis.com)

Dahlan Iskan Tunggu Sertifikasi Mobil Listrik Generasi Kedua


JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan terus berupaya menyelesaikan proyek mobil listrik generasi ke-2. Saat ini, mobil listrik itu akan segera diluncurkan jika sudah mendapatkan sertifikasi resmi dari Kementerian Perindustrian.
"Sekarang proses di Kemenperin untuk dapat sertifikasi, kita harapkan 20 September ini selesai," harap Dahlan di DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/9).
Belajar dari pengalaman sebelumnya, mantan Dirut PLN ini mengaku tidak mau terlalu terburu-buru untuk mencoba mobil ini. "Saya pengen sekali coba mengendarai, tapi sekarang tunggu sertifikasi dulu lah, saya tidak mau salah lagi. Ya nanti setelah mendapatkan sertifikasi, baru akan dicoba," kata Dahlan.
Selain menyiapkan puluhan mobil listrik untuk kendaraan para delegasi KTT APEC di Bali Oktober mendatang, tim Pandawa Putra Petir tengah merakit 3 jenis mobil listrik yaitu tipe Alphard dan Bus. Sedangkan mobil sport yang diberi nama Selo merupakan pesanan Dahlan Iskan.(chi/jpnn)

Sunday, September 8, 2013

Sukhoi TNI AU akan lengkap satu skuadron tahun depan


Jakarta - Tahun depan, Skuadron Udara 11 TNI AU akan lengkap terdiri dari 16 pesawat tempur Sukhoi Su-27 Flankers series, termasuk sistem kesenjataan dan avionika tercanggih yang sedang dalam pemesanan.

"Insya Allah, tahun depan lengkap. Kami sangat mendukung perkuatan dari saat ini yang 40 persen dari kekuatan esensial minimum. Saya baru merasakan berada dalam kokpit pesawat tempur ini selama 30 menit di udara," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Armida Alisyahbana, di Jakarta, Kamis.

Bersama koleganya, Menteri Pendidikan Nasional, M Nuh, Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Marsetio, dan Kepala Staf TNI AD, Jenderal TNI Moeldoko, dia diberi wing kehormatan penerbang tempur TNI AU. Adalah Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI IB Putu Dunia, yang menyematkan wing kehormatan penerbang tempur itu di flight suit masing-masing, disaksikan Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono, dan segenap pimpinan TNI.

Dengan begitu, Alisyahbana menjadi perempuan pertama Indonesia yang ikut terbang dalam kokpit pesawat tempur generasi empat buatan Rusia itu, sekaligus perempuan pertama Indonesia yang berhak memakai wing kehormatan penerbang tempur TNI AU.

Menurut Alisyahbana, kelengkapan persenjataan Sukhoi Su-27 Flankers series (termasuk versi kursi ganda, Sukhoi Su-30MKI), merupakan satu paket program penguatan kekuatan militer di udara. Indonesia membeli Sukhoi Su-27 dari varian SKM untuk versi kursi tunggal, dan Su-30 Mk2 pada versi kursi ganda.

Dari sisi kesenjataan, Sukhoi Su-27 Flanker bisa dimuati peluru kendali berpemandu terdiri dari R-73, R-27ER, R-27ET, dan RVV-AEI. Sedangkan peluru kendali tak berpemandu yang bisa digotong adalah FAB-500M62/RBK-500/ZB-500, FAB-250M54, FAB-250M62, OFAB-100-120, B-8MI, dan B-13L.

Sukhoi Su-27 Flanker dengan manuver Pugachev-nya yang sangat menakutkan itu juga bisa membawa peluru kendali udara ke darat, yaitu Kh-29T, Kh-31P(A), Kh-59M, KAB-500Kr, KAB-1500Kr, selain 1.500 butir peluru munisi panas GSh-301 dari kanon 30 milimeter S-25.

Skuadron Udara 11 ada di bawah Wing 5 TNI AU yang berkedudukan di Pangkalan Udara Utama TNI AU Hasanuddin, Makassar. Pada akhir Februari lalu (22/2) dua jet tempur Sukhoi Su-30Mk2 Flanker tiba, mendarat di landasan pangkalan udara di Makassar itu.

Saat tiba, kedua Su-30 Mk2 itu dalam keadaan dilepas sayap-sayap, dan radome radarnya agar muat di dalam ruang kargo An-124-100 itu. Setelah lengkap diturunkan semuanya, kedua pesawat tempur dengan riwayat penerbangan masih 0 jam terbang, baik untuk mesin ataupun struktur pesawat terbangnya, dirakit.

Kedua pesawat tempur TNI AU itu bagian dari enam tambahan Sukhoi Su-30 dan Su-27 yang dipesan lagi oleh Indonesia dari Rusia. Indonesia memesan varian Su-27 SKM dan Su-30 Mk2, karena Rusia menyesuaikan keperluan pembeli.

Sejak awal pada Maret 2003, Indonesia membeli seluruh penempur TNI AU itu dari pabriknya, KNAAPO (Komsomolsk-na Amure Aircraft Production Association) di Rusia.

Saat itu dua Su-27 SKM dan satu Su-30 Mk2 mendarat di Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi, Maospati, Jawa Timur. Kedatangan kali kedua seri Sukhoi yang memiliki kemampuan di atas F-15 Eagle atau pesawat tempur generasi 4 ini adalah pada 2009 dan 2010.

Menurut sumber, berlainan dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada umumnya, Rusia menjual produk-produk persenjataannya --terutama pesawat tempur-- dalam modul-modul terpisah, yang mengharuskan pembeli jeli dan cermat.

Masing-masing modul --termasuk sistem kesenjataan dan avionika-- itu dibeli secara terpisah dengan pelatihan terpisah pula. Persenjataan Sukhoi itu, sebagai misal, melalui proses yang berbeda dengan proses pembelian pesawat tempurnya.

Ini yang menyebabkan selama beberapa tahun, Su-27 SKM dan Su-30 Mk2 TNI AU terbang tanpa dilengkapi peluru kendali dan persenjataan lain.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...