Pages

Showing posts with label Pertahanan. Show all posts
Showing posts with label Pertahanan. Show all posts

Tuesday, June 11, 2013

Para menteri pertahanan akui Indonesia menonjol

Menhankam RI, ketika menjadi pembicara di Shangri-La Dialogue, Dialog antar menhankam Asia
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan menteri-menteri pertahanan dari negara-negara sahabat yang menemuinya menghargai dan menghormati peran serta posisi menonjol Indonesia di Asia.

Purnomo telah mengadakan sedikitnya 14 pertemuan bilateral dengan sejumlah menteri pertahanan dan pejabat pertahanan dan keamanan di Singapura, Jumat dan Sabtu lalu di sela Pertemuan Tingkat Tinggi Keamanan ke-12 di Singapura.

Dalam forum yang juga dikenal The Shangri-La Dialogue (SLD) sejak 31 Mei hingga 2 Juni itu, Purnomo berbicara dalam sesi ketiga Sabtu siang bertema "Modernisasi Militer dan Transparansi Strategik" bersama dengan Menhan Australia Stephen Smith dan Menhan Inggris Philip Hammond.

Dia menyempatkan diri untuk memberikan wawancara kepada Antara dan Jakarta Post Sabtu malam kemarin. 

Para menhan yang disebutnya mengapresiasi Indonesia itu antara lain Chuck Hagel dari Amerika Serikat, Stephen Smith dari Australia, Philip Hammond dari Inggris, Itsunori Onodera dari Jepang, Jean-Yves Le Drian dari Prancis dan Peter Mackay dari Kanada.

"Dalam pertemuan bilateralnya, Menhan Chuck Hagel berkali-kali mengatakan bahwa Indonesia masuk kelompok emerging powers di Asia bersama dengan India dan China," kata Purnomo.

Menurut dia, tim AS yang membidangi kawasan Asia Pasifik akan bertemu dengan tim Indonesia untuk menindaklanjuti pertemuan bilateral itu. Hagel juga mengundang Purnomo untuk bertemu di AS, selain juga dengan para Menhan ASEAN.

Pertemuan bilateral Purnomo dan para mitranya membicarakan kerjasama militer dan alutsista. "Kerja sama yang dibahas mencakup antarpertahanan, militer, individu, pelatihan dan juga industri militer," katanya.

Purnomo mengaku memastikan posisi Indonesia jelas dalam sengketa di Laut China Selatan yang melibatkan Malaysia, Filipina, Brunei, Vietnam, Taiwan dan China.

"Sengketa di wilayah itu diselesaikan secara bilateral oleh negara-negara pengklaim dan Indonesia sebagai bukan negara claimant terlibat dalam dimensi multilateral," katanya. "Kita inginkan kebebasan pelayaran di Laut China Selatan dan menjadi kawasan damai dan stabil."

Purnomo juga menyinggung modernisasi pertahanan Indonesia yang tidak hanya melalui pengadaan persenjataan, tetapi juga menciptakan peluang mengembangkan industri pertahanan nasional sendiri.

"Modernisasi militer di Indonesia juga termotivasi oleh ambisi kami untuk memainkan peran yang meningkat dalam pemeliharaan keamanan dan perdamaian internasional melalui operasi-operasi pasukan pemelihara PBB," katanya. (Antara News).

Wednesday, May 29, 2013

Industri Pertahanan Indonesia Incar Pasar ASEAN

MLRS milik TNI AU

Menhankam RI Purnomo Yusgiantoro
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertahanan ternyata mengincar pasar industri pertahanan di wilayah negara-negara ASEAN. Potensi pasar di kawasan ini, menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, bisa mencapai nilai US $ 25 miliar.

Peluang pasar ini disampaikan Purnomo dalam diskusi Executive Business Breakfast tentang Ke Mana Arah Kebijakan Industri Pertahanan Indonesia yang digelar Lembaga Kajian Pusat Studi Kebijakan dan Pendampingan Strategis (CPSSA) di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Kamis 23 Mei 2013. "Proyeksi masa depan adalah bagaimana membangun kemandirian industri pertahanan." kata Purnomo. "Kami ingin industri pertahanan Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tapi juga dapat ekspor ke luar negeri."
Helikopter buatan PT DI

Menurut Purnomo, proyeksi pasar industri pertahanan di wilayah Asia Tenggara biaa mencapai capai US $ 25 Miliar. Potensi pasar ini, sebaiknya juga dimanfaatkan untuk mendorong kemandirian lokal dalam sektor industri pertahanan dalam negeri. Apalagi, ASEAN dalah pasar yang besar bagi industri pertahanan. Pasar industri ini melonjak signifikan dalam dua dekade terakhir. 

Meski besar, namun kebanyakan negara anggota ASEAN setuju, transaksi di pasar industri pertahanan dikhususnya untuk peralatan bukan untuk perang atau untuk operasi militer selain perang. Selain itu, juga mulai dirasa pentingnya kolaborasi industri pertahanan di kawasan ASEAN. Kolaborasi itu mutlak diperlukan guna terciptanya kemandirian alutsista dan perluasan pembangunan ekonomi dna kemajuan kawasan ASEAN. "Harus ada yang bersedia membeli alutsista dalam negeri beserta kekurangan dan kelebihannya demi memajukan industri pertahanan dalam negeri sebelum berkolaborasi di ASEAN." kata Purnomo.

Purnomo mengatakan, mengatakan bahwa industri pertahanan RI yang berdiri sejak 1958 dengan menasionalisasi industri pertahanan bekas peninggalan asing seperti Inggris dan Belanda, runtuh pada tahun 1997 - 1998. Pada tahun 2010 pemerintah telah memprioritaskan pembangunan industri pertahanan hingga 2024."Tidak ada negara di dunia ini yang kuat kalau hanya ekonominya saja yang kuat," kata Purnomo

Ia mengatakan bahwa negara yang kuat itu tak hanya ditopang oleh ekonominya yang kuat namun juga harus memiliki industri pertahanan yang kuat pula dan pertahanan itu tidak bisa sukses hanya bergantung pada industri pertahanannya saja tetapi komitmen untuk mewujudkannya

Dalam presentasinya, Purnomo membeberkan peta dasar pembangunan Industri Pertahanan dalam negeri, selama 15 tahun ke depan menyusul diberlakukannya UU Industri Pertahanan nomor 16 tahun 2012. Terutama bagaimana rancang bangun peta kekuatan industri pertahanan di kawasan dan peran Komite Kebijakan Industri Pertahanan di dalamnya. 

Sebelumnya dalam sambutan membuka acara itu, Ketua Centre for Policy Studies and Strategic Advocacy Luhut Panjaitan optimistis, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6% pada tahun ini dan diperkirakan dapat mencapai 8%-9% dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia seharusnya tidak sekedar menjadi pasar bagi negara lain tetapi harus sudah mencari pasar luar.

"Di industri pertahanan, Indonesia sebenarnya sudah punya industri dasar. Ini bisa dikembangkan. Tinggal dorongan kebijakan dari pemerintah," ujar Luhut. (Tempo).

Tuesday, May 14, 2013

Barat Merasa Terancam Oleh Kebangkitan Asia


Barat Merasa Terancam Oleh Kebangkitan Asia

Kapal Induk Cina, Liaoning, sedang berlayar di Samudera membawa puluhan pesawat jet tempur. Kehadiran kapal induk Cina yang pertama ini menegaskan supremasi baru di lautan menyaingi kekuatan laut Barat di Asia Pasifik. Belum lagi  debar jantung si Paman Sam mereda, Cina malah berencana membuat kapal induk kedua.
Dan ini adalah INS Viraat, Kapal induk milik AL India. Kekuatan militer India
yang terus berkembang membuat Italia 'tunduk'  menyerahkan 2 marinirnya
untuk diadili di India setelah menembak mati dua orang nelayan India.
Dan yang ini adalah kapal induk Indonesia di masa depan.
Percayalah, PT PAL akan mampu membuat kapal induk
seperti ini kelak, setelah proyek IFX selesai.
Pada Hari Selasa, 7 Mei 2013, Harian Republika menurunkan tulisannya berjudul : "NATO : Eropa Terancam Hanya Jadi 'Penonton'. Lengkapnya adalah sebagi berikut :

NATO: Eropa Terancam Hanya Jadi 'Penonton'

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Eropa menghadapi risiko akan menjadi 'penonton global' jika semua negara Eropa terus memangkas pengeluaran pertahanan mereka akibat kelambatan pertumbuhan ekonomi saat ini. Demikian peringatan Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, Senin (6/5).
"Negara Eropa harus memahami kekuatan lunak saja benar-benar berarti tak ada kekuatan sama sekali. Tanpa kemampuan keras untuk mendukung diplomasinya, Eropa akan kekurangan kepercayaan dan pengaruh," kata Rasmussen saat berpidato di Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Eropa.
"Eropa akan menghadapi resiko menjadi penonton global dan bukan aktor global tangguh yang dapat dan mesti dicapainya," kata Rasmussen.
Pemimpin NATO itu menyatakan peran global Eropa tak terelakkan akan menderita akibat kemerosotan yang berlanjut dalam pengeluaran pertahanan Eropa. Eropa akan tak bisa ikut dalam penanganan krisis.
"Satu-satunya cara menghindarinya ialah mempertahankan jalur pengeluaran pertahanan,'' katanya. ''Hentikan pemotongan. Mulai lah menanam kembali di bidang keamanan segera setelah ekonomi kalian pulih."

Dari tulisan di atas terlihat sekali bahwa Barat (Eropa Barat & AS) tengah gundah. Mereka memandang bahwa kebangkitan beberapa negara di Asia seperti China, India, Iran, dan lain-lain termasuk Indonesia merupakan ancaman serius terhadap dominasi dan monopoli mereka atas dunia.

Keresahan mereka merefleksikan cara pandang dirinya terhadap benua lain, termasuk Asia. Anggapan bahwa kebangkitan Ekonomi Asia merupakan ancaman adalah kecemasan dari sekelompok negara yang selamanya ingin memonopoli dunia, menguasai dunia, mengendalikan dunia di bawah telapak kakinya. Ini terlihat dari  ucapan Rasmussen, Sekjend NATO : "Negara Eropa harus memahami kekuatan lunak saja benar-benar berarti tak ada kekuatan sama sekali. Tanpa kemampuan keras untuk mendukung diplomasinya, Eropa akan kekurangan kepercayaan dan pengaruh," katanya saat berpidato di Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Eropa.

Jelas bahwa di pikiran para pemimpin NATO, kekuatan militer adalah kekuatan terpenting pengendali diplomasi, dan ini berarti mereka tidak sepenuhnya percaya pada diplomasi itu sendiri tanpa 'ancaman-ancaman' kapal induk, tank-tank tempur, gertakan-gertakan mengancam, dan rudal-rudal pembunuh. Pada hakekatnya, mereka tidak pernah benar-benar percaya pada dialog. Maka, bisa dipahami mengapa mereka mengirimkan tank-tank tempur untuk memaksakan demokrasi, membunuhi rakyat negara-negara lemah dengan pengerahan pesawat-pesawat tempur untuk menggulingkan pemerintahan negara lain, atau sebaliknya, membantu menumpas kelompok oposisi pemerintahan yang loyal pada mereka. Mali diserang Perancis, Irak dibom AS dan Inggris, Afganistan diserang NATO, Iran diancam akan diserang, dan lain-lain. Tak ada serangan militer tanpa jatuh korban jiwa.

Itulah tabiat Barat : agresif dan mau menang sendiri. Sejarah membuktikan itu. 
Jika suatu negara memiliki karakter menindas seperti itu, maka bisa dipahami mengapa mereka harus menjadi penguasa di dunia atau harus menjadi dominan atas segala hal : ekonomi, politik, dan bahkan kekuasaan serta budaya. Bisa dipahami pula mengapa mereka merasa tidak tenang manakala ada negara lain, yang dipersepsikan bukan sekutu dekat, menjadi kuat dan sejahtera secara ekonomi. Sudah pasti negara 'jahat' akan selamanya merasa terancam oleh negara yang 'dijahatinya' manakala negara-negara itu (terjajah) tumbuh menjadi lebih kuat dari penjajahnya.

Dinamika psikologi ini sangat mudah dipahami. Inggris dan NATO merasa terancam karena merekalah yang pernah menyerang dan menjajah Cina, India, Timur Tengah, Indonesia, dan lain-lain. Ingat, hampir 90 % negara di dunia ini pernah merasakan jajahan dan penindasan oleh orang-orang kulit putih Eropa (Barat). 

Asia sudah kenyang dengan kekerasan dan penindasan di bawah telapak kaki penjajahan Barat. Tak ada penjajah yang tidak memaksakan kehendak. Tak ada penjajah tanpa perampokan kekayaan alam dari negara-negara terjajah. 

Cina pernah mengalami penjajahan oleh Inggris, India juga demikian. Vietnam dan Philipina pernah dijajah oleh AS, sementara Indonesia dijajah oleh Belanda. Malaysia dijajah oleh Inggris, demikian pula dengan Singapura dan Hongkong. Sementara Argentina, Brazil, dan lain-lain negara-negara di Amerika latin dijajah oleh Spanyol.

AS sendiri didirikan oleh Inggris dengan merampas tanah-tanah orang Indian, membunuhi mereka, dan menyita tanah-tanah mereka. Australia juga sama, negara ini didirikan dengan menyerang orang-orang Aborigin, menindas mereka, memperbudak penduduk aslinya, dan menyita tanah-tanah mereka. 

Jika saat ini Cina, India, Brazil, Rusia, Afrka Selatan, dan Indonesia sedang bangkit, lalu Eropa merasa terancam oleh kebangkitan mereka, maka mudah pula dimengerti mengapa Eropa merasa begitu was-was. Mereka mengira, Asia juga sama wataknya sama Eropa. Jika Cina kuat dan mendominasi dunia, demikian anggapan mereka, maka Eropa-lah yang giliran akan dimusuhi dan diserang.

AS dan Eropa Barat tidak akan mudah mempercayai negara lain di luar sekutu mereka sebagai negara yang 'baik'. Mengapa ? Karena mereka juga tidak mampu mempercayai diri mereka sendiri sebagai sekumpulan negara yang 'baik'. Itulah persoalannya. 

Karakter penjajah masih belum hilang hingga kini. Dalam organisasi perdagangan dunia, WTO- pun, negara-negara maju selalu berupaya menjadikan lembaga itu sebagai pengawas dan pusat pengaduan atas sikap protektif negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka dengan berbagai cara, ingin mendikte IMF, World Bank, PBB, dan bahkan WTO agar memenuhi keinginan AS, Eropa Barat, dan lain-lain negara maju.

Ketika porsi kepemilikan saham Bank Dunia yang selama ini dimiliki AS dan sekutunya diusulkan untuk diubah aturannya, mereka menolak. Sekali lagi, Barat ingin terus bisa mengendalikan lembaga multilateral termasuk keuangan sebagai sarana untuk menjajah negara-negara berkembang seperti Indonesia dan India. 

Mereka selalu ingin menang sendiri, merasa paling benar sendiri, dan di bawah telapak kaki mereka, Barat masih juga berkhayal bahwa dunia akan 'aman'.  Tentu saja, 'aman' dalam pandangan negara-negara Barat tidak selalu 'aman' bagi negara-negara lain. Bagi dunia Islam, Barat adalah agresor dan teroris terbesar. Bagi Asia, Afrika, dan Amerika Latin, Barat juga menyisakan dosa-dosa hitam masa lalu berupa penjajahan (yang berarti juga perampokan kekayaan alam, perbudakan, penindasan, dan pembantai terbesar)  yang sekarang tiba-tiba merasa sok suci sebagai 'pendekar' HAM dan demokrasi. Mereka juga tidak pernah menyatakan penyesalan dan permintaan maaf atas kebrutalan mereka di masa lalu. Bahkan hingga sekarang.

Namun faktanya, justru negara-negara barat-lah yang banyak melanggar HAM dengan pembantaian yang mereka lakukan di Pakistan, Afganistan, dan lain-lain tempat di dunia termasuk tempat penyksaan mengerikan di Guantnanmo. Barat juga negara paling tidak demokratis di dunia dengan mempertahankan monopoli suara mereka di DK PBB, anti demokrasi dengan menentang resutrukturisasi organisasi PBB dengan hak eksklusif 'veto right' yang dikuasai oleh segelintir negara saja dengan Eropa sebagai pemegang Veto terbesar. Benua Amerika Latin dan Afrika sama sekali tidak punya hak sepadan untuk memperjuangkan nasib mereka di DK PBB karena ketiadaan wakil mereka yang memiliki hak serupa.

Kebangkitan Asia diharapkan menjadi penyeimbang atas arogansi Barat yang cenderung semena-mena. Yang kuat berangsur-angsur akan melemah, dan kemudian digantikan oleh pihak lain. Jika kekuatan AS dan Eropa Barat memudar, maka BRICS (Brazil, Rusia, India, Cina, dan South Africa) / bisa jadi menjadi BRIICS (Brazil, Rusia, India, Indonesia, Cina, dan South Africa) diharapkan akan muncul menjadi kekuatan baru di dunia, sehingga dunia menjadi lebih aman dan adil. Adil bagi Asia, Amerika Latin, Amerika Selatan, Afrika, dan seluruh dunia tanpa kecuali.

Thursday, May 2, 2013

Kemampuan pertahankan kedaulatan harus sepadan wilayah

Ilustrasi - Pasukan Pendarat Ribuan pasukan pendarat Korps Marinir TNI AL mengikuti Gelar Pasukan Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2013, di Dermaga Madura Koarmatim, Ujung Surabaya, Jumat (26/4). Pada Latgab TNI 2013 yang akan digelar di empat daerah (Jakarta, Situbondo, Sangatta Kaltim dan Bima NTB) ini, TNI AL mengerahkan 16.745 prajurit dan ratusan alat utama sistem persenjataan (alutsista). (FOTO ANTARA/Eric Ireng)

Perairan Laut Jawa (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kemampuan untuk mempertahankan kedaulatan harus sepadan dengan luas wilayah yang dimiliki.

"Terus terang dibandingkan luas wilayah, mestinya kekuatan militer kita harus lebih besar dan modern, meski dengan judul `minimum essensial force`," kata Presiden saat mendengarkan paparan mengenai Latihan Gabungan TNI tahun 2013 di atas KRI Makassar 590 di perairan Laut Jawa menuju Situbondo dari Dermaga Ujung Surabaya, Kamis.

Presiden memaparkan kekuatan TNI harus siap untuk menghadapi tantangan kedaulatan wilayah kapan pun. Sistem persenjataan itu harus imbangi negara lain, bahkan harus lebih unggul. 

"Alhamdulillah sekarang ini kita punya kemampuan maka tanpa mengorbankan kepentingan lain maka bisa memodernisasi," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden mengatakan upaya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan nasional hendaknya tidak mengalami perlambatan karena masalah-masalah politik dalam negeri yang bisa menganggu stabilitas nasional.

"Mestinya bangsa ini bersatu jangan karena urusan politik A dan B maka hilang kesempatan (memperbaharui-red)," ujarnya, menegaskan.

Latihan Gabungan TNI tahun 2013, seperti yang dipaparkan oleh Komandan Latihan, Pangkostrad Letjen TNI Munir berlangsung selama 20 hari dan melibatkan secara langsung 13.294 personel.

Pada Kamis siang, di perairan Laut Jawa, di atas KRI Makassar dengan nomor lambung 590, Presiden menyaksikan kegiatan "screen exercise", "anti sub marine exercise", "cross deck exercise" evakuasi dan pemindahan barang, latihan bantuan serangan udara dan penembakan kapal.

Kepala Negara juga menyaksikan simulasi penembakan kapal penembakan dengan exocet MM40 blok II dari KRI Sultan Iskandar muda 367, penembakan rudal C802 dari KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355, dan terpedo SUT dari KRI Cakra 401 dengan sasaran ex KRI Teluk Semangka 512.

Turut menyaksikan, dalam KRI Surabaya dengan nomor lambung 591 yang berlayar di belakang KRI Makassar, Wakil Presiden Boediono. Sumber  : Antara
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...