Pages

Showing posts with label Pesawat. Show all posts
Showing posts with label Pesawat. Show all posts

Saturday, July 6, 2013

Pesawat Made in Bandung Laris Dibeli Timor Leste, Malaysia Hingga Madagaskar


Bandung – BUMN produsen pesawat terbang asal Bandung, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) gencar menggarap pasar di Asia Pasifik. Sejumlah kontrak pembuatan pesawat NC212, CN-235 dan CN-295 akan diteken tahun ini dengan Filipina, Thailand, dan Malaysia.

Hal itu disampaikan Manajer Pemasaran PT DI, Teguh Graito di Kantor PT DI, Jalan Pajajaran, Bandung, Selasa (2/7/2013).

Ia menuturkan, pasar Asia Pasifik menjadi salah satu pasar yang fokus digarap PT DI karena jarak yang lebih dekat dan hubungan diplomatik yang baik.

“Di wilayah Asia Pasifik, kita punya sejarah yang kuat. Hanya sedikit produsen pesawat terbang di Asia,” ujar Teguh.

Berdasarkan market studi bersama Airbus Military (CASA), kebutuhan pesawat kelas NC212 di Asia Pasifik sekitar 100 unit, CN-235 sekitar 75 unit dan CN 295 sekitar 75 unit. Dengan market studi yang ada, PT DI pun melakukan penetrasi dengan melakukan market survei secara langsung untuk mengetahui indikasi kebutuhan yang sebenarnya.

Teguh menyebutkan khusus untuk NC212 sejumlah negara saat ini tengah intens komunikasi untuk melakukan kerjasama. Kebutuhan NC212 diantaranya 2 unit untuk Air Force Filipina, sebanyak 6-8 unit untuk Ministry of Agriculture and Cooperatives (MoAC) Thailand, 6 unit untuk Myanmar Airforce, 2 unit untuk Nepal Army, 2 unit untuk Papua Nugini, 2 unit untuk Timor Leste Air Force, 2 unit untuk Biman Airlines Bangladesh dan 2 unit untuk Air Madagaskar.

“Untuk Thailand, dari kebutuhan 6-8 unit, mereka menginginkan pengiriman 1 setiap tahun. Kita sudah mengerjakan 1 tahun 2012 lalu, harapannya, tahun ini akan ada kontrak lagi,” katanya.

Sementara untuk CN-235 PT DI tengah intens berkomunikasi dengan sejumlah negara seperti Filipina, Malaysia, Brunai Darusalam, Thailand dan Myanmar.

“Malaysia berencana mengkonversi 3 unit CN-235 nya menjadi maritim patrol. Selain itu Filipina juga diharapkan akan kontrak dengan kami tahun ini,” tutur Teguh. (www.indonesian-aerospace.com)

Monday, June 24, 2013

Pesawat Bertenaga Surya Segera Direalisasikan




Washington - Pesawat berbahan bakar tenaga surya akan segera direalisasikan oleh proyek The Solar Impulse. Pekerjaan yang digagas Bertrand Piccard, pilot asal Swiss, kini telah memasuki tahap uji coba. Kunci energi dari pesawat ini adalah 12 ribu sel surya yang ditanam pada sayapnya. "Dengan jumlah ini, baterai dapat menyimpan energi kala pesawat terbang di malam hari," tulis Huffington Post.

Konsekuensinya, sayap pesawat akan memanjang seperti pesawat jet. Bobot badan kapal terbang ini diupayakan seringan mungkin sehingga hanya memuat satu awak.

Dalam misi melintasi Amerika Serikat, pesawat bertenaga surya terbang dari St Louis ke Washington, Ahad, 15 Juni 2013. Dan pada Juli nanti, kapal ini akan terbang lagi menuju New York. Jika perjalanan itu sukses, maka akan menjadi momen bersejarah. Karena itu artinya, Solar Impulse merupakan pesawat tenaga surya pertama yang bisa terbang siang dan malam melintasi Amerika Serikat dari barat ke timur. "Ini membuktikan keandalan teknologi hijau, dan sangat penting untuk mendorong misi kami," ujar Piccard, seperti dikutip Reuters.

Sebelumnya, Solar Impulse terbang safari ke berbagai kota di Amerika. Awal Mei 2013, Solar Impulse terbang dari San Fransisco ke Phoenix. Akhir Mei, ia mengangkasa dari Phoenix ke Dallas. Lalu lanjut ke St Louis, dan diteruskan ke Washington. Pada saat menuju Washington, Solar Impulse membutuhkan waktu 30 jam dalam dua hari. Bahkan di Juni 2012, Solar Impulse bisa terbang antar benua, Spanyol, Eropa; ke Maroko, Afrika.

Piccard sendiri tak berencana berhenti sampai di sini. Ia bakal merevisi Solar Impulse agar lebih canggih. Hingga mampu terbang ke seluruh negara, dua tahun lagi. Proyek ini dimulai 10 tahun lalu. Dengan dana sekitar US $ 112 juta, sekitar Rp 1,1 triliun, proyek ini melibatkan Schindler, perusahaan asal Swiss yang lebih dikenal sebagai pembuat eskalator. (Tempo)

Friday, June 21, 2013

Ini Dia Penampakan Calon Jet Tempur Made in Bandung



Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali melanjutkan pengembangan jet tempur hasil kerjasama antara Kementerian Pertahanan Indonesia dan Korea Selatan. Pada pengembangan tahap I telah dihasilkan 2 konsep jet tempur yang siap dikembangkan untuk tahap selanjutnya.

Berikut ini adalah 2 gambar konsep jet tempur karya putra-putri Indonesia yang diberi nama Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX). Tampak ada sedikit perbedaan di ekor pesawat di antara dua konsep tersebut.

Manager Komunikasi Dirgantara Indonesia Sonny S Ibrahim menjelaskan, technology development atau pengembangan teknologi yang berada di tahap I telah tuntas dilakukan. Pada tahap ini dihasilkan dua model. Pada tahap berikutnya, hanya dipilih salah satu model yang akan dikembangkan untuk kemudian bisa diproduksi secara massal.

"Kalau programnya jalan lagi hanya dipilih satu model saja, sebab satu model juga sudah besar biaya dan resources yang akan digunakan," ucap Sonny kepada detikFinance, Jumat (14/6/2013).

Sebelumnya, tim dari Indonesia yang terdiri dari Balitbang Kementerian Pertahanan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, PTDI dan Institut Teknologi Bandung (ITB) terbang ke Korea Selatan untuk perencanaan KFX/IFX tahap pertama.

Program ini, telah dilaksanakan selama 18 bulan dan berakhir bulan Desember 2012 lalu. Nantinya untuk versi Indonesia, PTDI akan memproduksi tipe IFX. Jet tempur ini merupakan pesawat generasi 4,5. Pesawat ini lebih canggih dari jet tempur F-16 namun masih di bawah F-35. (Detik).

PT Dirgantara Indonesia-EADS sepakat tingkatkan produksi pesawat

Proses pembuatan Helikopter Cougar di PT Dirgantara Indonesia, Bandung.

Jakarta - Perseroan Terbatas Dirgantara Indonesia dengan Aeronautic Defence and Space Company (EADS), perusahaan produsen Airbus, Eurocopter, dan Eurofighter sepakat meningkatkan produksi helikopter dan pesawat, termasuk komponennya dalam jangka panjang.

"EADS dan Dirgantara Indonesia sepakat terus meningkatkan bisnis pembuatan pesawat dan helikopter untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun keperluan negara lainnya," kata Dahlan usai menerima kunjungan Presiden Direktur/CEO EADS, Thomas Enders, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa.

Dahlan menjelaskan bahwa jumlah helikopter di Indonesia masih sangat kurang, terlebih jika dibandingkan dengan Brasil.

"Airbus akan meningkatkan kerja sama helikopter. Karena di Brasil ada 2.000 helikopter di Indonesia hanya 200," jelas Dahlan di Kementerian BUMN, Jakarta.

Dahlan yang didampingi Direktur Utama Dirgantara Indonesia, Budi Santoso, mengatakan bahwa pihak EADS ingin meningkatkan kerja samanya dengan Dirgantara Indonesia yang merupakan BUMN pembuat pesawat terbang.

Dahlan menjelaskan bahwa jumlah helikopter di Indonesia dibandingkan dengan sejumlah negara masih relatif sangat rendah.

"Pasar helikopter di Indonesia masih sangat menjanjikan karena jumlahnya yang minim," ujarnya.

Mantan Dirut PLN ini mencontohkan Brasil saat ini memiliki sekitar 2.000 helikopter, sementara Indonesia masih memiliki 200 helikopter.

Dalam kerja sama produksi helikopter ini, kata dia, Airbus bertindak sebagai penjamin pembiayaan pengembangan helikopter.

Untuk itu, Dahlan menyerahkan sepenuhnya kepada Dirgantara Indonesia untuk menindaklanjuti kerja sama tersebut, termasuk kapasitas produksi yang ditargetkan.

Sementara itu, Direktur Utama Dirgantara Budi Santoso menjelaskan bahwa Indonesia ke depannya akan menjadi mitra serius bagi EADS dalam pengembangan industri dan bisnis dirgantara.

"EADS menganggap Dirgantara Indonesia sebagai mitra strategis dan penting dalam industri pembuatan pesawat," ujar Budi. (Antara)

Tuesday, June 18, 2013

RI Siapkan Rp 15 Triliun Bikin Jet Tempur Made in Bandung



Jakarta - Dibutuhkan setidaknya dana mencapai US$ 8 miliar atau setara Rp 78,4 triliun untuk menghasilkan prototype jet tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) yang tersertifikasi dan siap produksi.

Jet tempur ini, merupakan program kerjasama antara Kementerian Pertahanan Indonesia dan Korea Selatan. Sementara, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan mengalokasikan anggaran mencapai US$ 1,8 miliar atau senilai Rp 15,68 triliun. Alokasi ini, setara 20% dari dari keseluruhan biaya pengembangan jet tempur KFX/IFX.

"Kita join, totalnya US$ 8 miliar. Porsinya 20% ditanggung Indonesia dan 80% ditanggung Korsel," ucap Manager Komunikasi PT Dirgantara Indonesia (Persero) Sonny S Ibrahim kepada detikFinance, Jumat (14/6/2013).

Sementara 80% atau setara US$ 6,2 miliar untuk biaya pengembangan ditanggung oleh Korea Selatan. Saat ini, proses pengembangan jet tempur KFX IFX masuk ke tahap II yakni enjineering manufacturing development. Setelah proses ini, baru dilanjutkan pada tahap ke II yakni produksi dan pemeliharaan.

"Enjineering manufacurting development. Mulai detail desain, persipan produksi, pengerjaan 6-8 prototyping, testing dan sertifikasi. Itu butuh 8 tahun," tambahnya.
Sonny menerangkan, saat diproduksi di tahun 2020, untuk pembuatan struktur pesawat KFX/IFX dibuat di markas Dirgantara Indonesia di Bandung Jawa Barat. Sementara proses pemasangan peralatan elektronik pesawat, khusus KFX dilakukan di Korea Selatan. Semantara IFX tetap diproduksi di Indonesia. 

"Maunya produksi struktur (jet KFX/IFX) dibikin di kita, struktur untuk Indonesia dan Korea.  Elektronika di assembly line dibuat di Korea," tegasnya.

Sebelumnya, tim dari Indonesia yang terdiri dari Balitbang Kementerian Pertahanan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, PTDI dan Institut Teknologi Bandung (ITB) terbang ke Korea Selatan untuk perencanaan KFX/IFX tahap pertama. Program ini, telah dilaksanakan selama 18 bulan dan berakhir bulan Desember 2012 lalu.

Pada tahap ini, telah dihasilkan 2 konsep jet tempur IFX. Jet tempur ini merupakan pesawat generasi 4,5. Pesawat ini lebih canggih dari jet tempur F-16 namun masih di bawah F-35. (Detik).

Friday, June 14, 2013

Korsel Prioritaskan Indonesia di Bidang Pertahanan


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) berbincang dengan Menlu Korea Selatan, Yun Byung-se (kiri) di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/6).

NUSA DUA -- Dalam pertemuan kehormatan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan (Korsel), Yun Byung-se pembahasan mengenai industri pertahanan mencuat. Korsel memberikan sinyal akan memprioritaskan Indonesia untuk diajak kerja sama dalam bidang pertahanan.

Staf khusus presiden bidang hubungan internasional, Teuku Faizasyah, mengatakan Korsel sedang mengidentifikasi negara mana saja yang akan dijadikan mitra dalam pengembangan isu pertahanan. “Kami menangkap bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang diprioritaskan,” katanya, Jumat (14/6).

Dikatakannya, ke depan dalam konteks produksi sistem persenjataan Tanah Air, Korsel akan lebih meningkatkan perannya. Menurut Menlu Korsel, untuk isu pertahanan, mereka tidak sembarangan memilih negara yang dijadikan rekanan.

“Jadi dari apa yang disampaikan, mereka menyebutkan kerja sama ini sangat terfokus, sangat selektif terhadap negara-negara yang dianggap mitra utama mereka ini merupakan bagian kerja sama yang terus akan dimajukan oleh Indonesia," katanya.

Untuk menindaklanjuti kerja sama kedua negara, diharapkan pada forum APEC akhir tahun ini di Indonesia, bisa ada pertemuan antara Presiden SBY dengan Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye. “Korea Selatan berharap mereka bisa bertemu Bapak Presiden secara bilateral untuk melihat kembali kerja sama apa saja yang diutamakan,” katanya. (Republika)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...