Pages

Tuesday, May 14, 2013

Barat Merasa Terancam Oleh Kebangkitan Asia


Barat Merasa Terancam Oleh Kebangkitan Asia

Kapal Induk Cina, Liaoning, sedang berlayar di Samudera membawa puluhan pesawat jet tempur. Kehadiran kapal induk Cina yang pertama ini menegaskan supremasi baru di lautan menyaingi kekuatan laut Barat di Asia Pasifik. Belum lagi  debar jantung si Paman Sam mereda, Cina malah berencana membuat kapal induk kedua.
Dan ini adalah INS Viraat, Kapal induk milik AL India. Kekuatan militer India
yang terus berkembang membuat Italia 'tunduk'  menyerahkan 2 marinirnya
untuk diadili di India setelah menembak mati dua orang nelayan India.
Dan yang ini adalah kapal induk Indonesia di masa depan.
Percayalah, PT PAL akan mampu membuat kapal induk
seperti ini kelak, setelah proyek IFX selesai.
Pada Hari Selasa, 7 Mei 2013, Harian Republika menurunkan tulisannya berjudul : "NATO : Eropa Terancam Hanya Jadi 'Penonton'. Lengkapnya adalah sebagi berikut :

NATO: Eropa Terancam Hanya Jadi 'Penonton'

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Eropa menghadapi risiko akan menjadi 'penonton global' jika semua negara Eropa terus memangkas pengeluaran pertahanan mereka akibat kelambatan pertumbuhan ekonomi saat ini. Demikian peringatan Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, Senin (6/5).
"Negara Eropa harus memahami kekuatan lunak saja benar-benar berarti tak ada kekuatan sama sekali. Tanpa kemampuan keras untuk mendukung diplomasinya, Eropa akan kekurangan kepercayaan dan pengaruh," kata Rasmussen saat berpidato di Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Eropa.
"Eropa akan menghadapi resiko menjadi penonton global dan bukan aktor global tangguh yang dapat dan mesti dicapainya," kata Rasmussen.
Pemimpin NATO itu menyatakan peran global Eropa tak terelakkan akan menderita akibat kemerosotan yang berlanjut dalam pengeluaran pertahanan Eropa. Eropa akan tak bisa ikut dalam penanganan krisis.
"Satu-satunya cara menghindarinya ialah mempertahankan jalur pengeluaran pertahanan,'' katanya. ''Hentikan pemotongan. Mulai lah menanam kembali di bidang keamanan segera setelah ekonomi kalian pulih."

Dari tulisan di atas terlihat sekali bahwa Barat (Eropa Barat & AS) tengah gundah. Mereka memandang bahwa kebangkitan beberapa negara di Asia seperti China, India, Iran, dan lain-lain termasuk Indonesia merupakan ancaman serius terhadap dominasi dan monopoli mereka atas dunia.

Keresahan mereka merefleksikan cara pandang dirinya terhadap benua lain, termasuk Asia. Anggapan bahwa kebangkitan Ekonomi Asia merupakan ancaman adalah kecemasan dari sekelompok negara yang selamanya ingin memonopoli dunia, menguasai dunia, mengendalikan dunia di bawah telapak kakinya. Ini terlihat dari  ucapan Rasmussen, Sekjend NATO : "Negara Eropa harus memahami kekuatan lunak saja benar-benar berarti tak ada kekuatan sama sekali. Tanpa kemampuan keras untuk mendukung diplomasinya, Eropa akan kekurangan kepercayaan dan pengaruh," katanya saat berpidato di Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Eropa.

Jelas bahwa di pikiran para pemimpin NATO, kekuatan militer adalah kekuatan terpenting pengendali diplomasi, dan ini berarti mereka tidak sepenuhnya percaya pada diplomasi itu sendiri tanpa 'ancaman-ancaman' kapal induk, tank-tank tempur, gertakan-gertakan mengancam, dan rudal-rudal pembunuh. Pada hakekatnya, mereka tidak pernah benar-benar percaya pada dialog. Maka, bisa dipahami mengapa mereka mengirimkan tank-tank tempur untuk memaksakan demokrasi, membunuhi rakyat negara-negara lemah dengan pengerahan pesawat-pesawat tempur untuk menggulingkan pemerintahan negara lain, atau sebaliknya, membantu menumpas kelompok oposisi pemerintahan yang loyal pada mereka. Mali diserang Perancis, Irak dibom AS dan Inggris, Afganistan diserang NATO, Iran diancam akan diserang, dan lain-lain. Tak ada serangan militer tanpa jatuh korban jiwa.

Itulah tabiat Barat : agresif dan mau menang sendiri. Sejarah membuktikan itu. 
Jika suatu negara memiliki karakter menindas seperti itu, maka bisa dipahami mengapa mereka harus menjadi penguasa di dunia atau harus menjadi dominan atas segala hal : ekonomi, politik, dan bahkan kekuasaan serta budaya. Bisa dipahami pula mengapa mereka merasa tidak tenang manakala ada negara lain, yang dipersepsikan bukan sekutu dekat, menjadi kuat dan sejahtera secara ekonomi. Sudah pasti negara 'jahat' akan selamanya merasa terancam oleh negara yang 'dijahatinya' manakala negara-negara itu (terjajah) tumbuh menjadi lebih kuat dari penjajahnya.

Dinamika psikologi ini sangat mudah dipahami. Inggris dan NATO merasa terancam karena merekalah yang pernah menyerang dan menjajah Cina, India, Timur Tengah, Indonesia, dan lain-lain. Ingat, hampir 90 % negara di dunia ini pernah merasakan jajahan dan penindasan oleh orang-orang kulit putih Eropa (Barat). 

Asia sudah kenyang dengan kekerasan dan penindasan di bawah telapak kaki penjajahan Barat. Tak ada penjajah yang tidak memaksakan kehendak. Tak ada penjajah tanpa perampokan kekayaan alam dari negara-negara terjajah. 

Cina pernah mengalami penjajahan oleh Inggris, India juga demikian. Vietnam dan Philipina pernah dijajah oleh AS, sementara Indonesia dijajah oleh Belanda. Malaysia dijajah oleh Inggris, demikian pula dengan Singapura dan Hongkong. Sementara Argentina, Brazil, dan lain-lain negara-negara di Amerika latin dijajah oleh Spanyol.

AS sendiri didirikan oleh Inggris dengan merampas tanah-tanah orang Indian, membunuhi mereka, dan menyita tanah-tanah mereka. Australia juga sama, negara ini didirikan dengan menyerang orang-orang Aborigin, menindas mereka, memperbudak penduduk aslinya, dan menyita tanah-tanah mereka. 

Jika saat ini Cina, India, Brazil, Rusia, Afrka Selatan, dan Indonesia sedang bangkit, lalu Eropa merasa terancam oleh kebangkitan mereka, maka mudah pula dimengerti mengapa Eropa merasa begitu was-was. Mereka mengira, Asia juga sama wataknya sama Eropa. Jika Cina kuat dan mendominasi dunia, demikian anggapan mereka, maka Eropa-lah yang giliran akan dimusuhi dan diserang.

AS dan Eropa Barat tidak akan mudah mempercayai negara lain di luar sekutu mereka sebagai negara yang 'baik'. Mengapa ? Karena mereka juga tidak mampu mempercayai diri mereka sendiri sebagai sekumpulan negara yang 'baik'. Itulah persoalannya. 

Karakter penjajah masih belum hilang hingga kini. Dalam organisasi perdagangan dunia, WTO- pun, negara-negara maju selalu berupaya menjadikan lembaga itu sebagai pengawas dan pusat pengaduan atas sikap protektif negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka dengan berbagai cara, ingin mendikte IMF, World Bank, PBB, dan bahkan WTO agar memenuhi keinginan AS, Eropa Barat, dan lain-lain negara maju.

Ketika porsi kepemilikan saham Bank Dunia yang selama ini dimiliki AS dan sekutunya diusulkan untuk diubah aturannya, mereka menolak. Sekali lagi, Barat ingin terus bisa mengendalikan lembaga multilateral termasuk keuangan sebagai sarana untuk menjajah negara-negara berkembang seperti Indonesia dan India. 

Mereka selalu ingin menang sendiri, merasa paling benar sendiri, dan di bawah telapak kaki mereka, Barat masih juga berkhayal bahwa dunia akan 'aman'.  Tentu saja, 'aman' dalam pandangan negara-negara Barat tidak selalu 'aman' bagi negara-negara lain. Bagi dunia Islam, Barat adalah agresor dan teroris terbesar. Bagi Asia, Afrika, dan Amerika Latin, Barat juga menyisakan dosa-dosa hitam masa lalu berupa penjajahan (yang berarti juga perampokan kekayaan alam, perbudakan, penindasan, dan pembantai terbesar)  yang sekarang tiba-tiba merasa sok suci sebagai 'pendekar' HAM dan demokrasi. Mereka juga tidak pernah menyatakan penyesalan dan permintaan maaf atas kebrutalan mereka di masa lalu. Bahkan hingga sekarang.

Namun faktanya, justru negara-negara barat-lah yang banyak melanggar HAM dengan pembantaian yang mereka lakukan di Pakistan, Afganistan, dan lain-lain tempat di dunia termasuk tempat penyksaan mengerikan di Guantnanmo. Barat juga negara paling tidak demokratis di dunia dengan mempertahankan monopoli suara mereka di DK PBB, anti demokrasi dengan menentang resutrukturisasi organisasi PBB dengan hak eksklusif 'veto right' yang dikuasai oleh segelintir negara saja dengan Eropa sebagai pemegang Veto terbesar. Benua Amerika Latin dan Afrika sama sekali tidak punya hak sepadan untuk memperjuangkan nasib mereka di DK PBB karena ketiadaan wakil mereka yang memiliki hak serupa.

Kebangkitan Asia diharapkan menjadi penyeimbang atas arogansi Barat yang cenderung semena-mena. Yang kuat berangsur-angsur akan melemah, dan kemudian digantikan oleh pihak lain. Jika kekuatan AS dan Eropa Barat memudar, maka BRICS (Brazil, Rusia, India, Cina, dan South Africa) / bisa jadi menjadi BRIICS (Brazil, Rusia, India, Indonesia, Cina, dan South Africa) diharapkan akan muncul menjadi kekuatan baru di dunia, sehingga dunia menjadi lebih aman dan adil. Adil bagi Asia, Amerika Latin, Amerika Selatan, Afrika, dan seluruh dunia tanpa kecuali.

Pindad Produksi Generator

Panser Anoa buatan PT Pindad diuji di jalur menanjak, datar, dan turun, di Bandung, Junmat (15/1/2010). Selain sudah digunakan pasukan perdamaian di Lebanon, panser berbobot 14 ton ini juga sudah dipesan Malaysia. Selain alutsista, Pindad juga memproduksi generator.
Pindad hingga kini lebih banyak dikenal sebagai produsen alutsista yang menyuplai kebutuhan militer seperti kendaraan maupun senjata. Padahal, mereka juga memiliki produk komersial yang tidak banyak diketahui. Salah satunya adalah generator.

Hal tersebut diutarakan Direktur PT Pindad, Adik Afian Soedarsono, di Bandung, Jumat (8/7/2012). PT Pindad diminta PT Perusahaan Listrik Negara untuk memproduksi generator untuk dipasang bersama 30 unit turbin yang dipesan dari PT Siemens Industrial Powers. Saat itu, Direktur Utama PT PLN, Nur Pamudji, menyebut bahwa dia pernah menemui generator buatan Pindad

"Selama 20 tahun Pindad pernah memproduksi generator dengan lisensi Siemens. Produksi itu terhenti pada tahun 1999 akibat krisis moneter," ujar Adik.

Namun, teknologi dari Jerman tersebut berhasil mereka serap sehingga cukup percaya diri untuk merilis generator dengan merek sendiri. Hanya, tidak banyak diketahui orang, sementara pengadaan generator untuk proyek pemerintah kebanyakan masih mengimpor. Adik memastikan bahwa generator yang mereka buat seluruhnya merupakan komponen lokal.

Pada tahun 2008, bisnis generator PT Pindad kembali bangkit. Secara perlahan mereka menangani pesanan dalam negeri seperti generator untuk kereta api listrik maupun pembangkit listrik tenaga panas bumi di Kamojang, Garut.

Adik memastikan bahwa produksi komersial seperti ini takkan menggeser core business mereka sebagai produsen alutsista mengingat pendapatan mereka sebagian besar masih disumbang oleh pembuatan alat tempur yang mencapai 80 persen.

Selain generator, Pindad juga menyuplai motor traksi yang dipakai kereta api listrik. Sama halnya dengan generator, teknologi tersebut dikuasai setelah sekian lama membeli lisensi dari Belanda dan kini percaya diri untuk memproduksi sendiri.

Saat ini Pindad mendapatkan kontrak pemasangan motor traksi untuk 10 set kereta dan baru terlaksana 3 set hingga kini.  (Kompas)

Friday, May 10, 2013

Diproduksi Massal, Mobil Esemka Laku 7.000 Unit




Jakarta - Produsen mobil nasional Esemka, PT Solo Manufaktur Kreasi terus mengembangkan produknya untuk bisa dipasarkan secara massal. Hingga April 2013, mobil Esemka buatan Solo itu sudah banyak dipesan hingga 7.000 unit.

Humas Produsen Esemka Sabar Budhi mengatakan, pihaknya masih akan terus mempromosikan mobil Esemka hingga bisa digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

“Pemesanan sudah 7 ribu unit sampai April kemarin. Itu seluruh Indonesia. Mereka sudah konfirmasi pesan, tinggal diambil,” kata sabar kepada detikFinance, Kamis (9/5/2013).

Dia menambahkan, hingga kini produsen mobil Esemka akan berusaha untuk bisa mempromosikan produknya ke seluruh Indonesia melalui pameran-pameran yang akan digelar di beberapa kota seperti Kediri, Dumai, Belitung, Bengkulu, Lampung, Cirebon, dan Jakarta.

“Nanti kita akan pamerkan di Pameran Produk Dalam Negeri (PPDN). Untuk sementara mungkin Cirebon dan Jakarta dulu,” kata Sabar. (Detik Finance)

Thursday, May 9, 2013

ITS dan PT Solusi-247 Kembangkan Radar Maritim



Surabaya  - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan perusahaan penyedia layanan teknologi komunikasi PT Solusi-247 menjalin kerja sama untuk mengembangkan "marine radar" (radar maritim).

Kerja sama itu ditandatangani oleh Direktur Utama PT Solusi-247, Beno Pradekso, bersama Pembantu Rektor IV ITS Prof Dr Darminto di Gedung Rektorat ITS Surabaya, Rabu.

Beno Pradekso mengatakan pihaknya kini sedang gencar melakukan riset untuk pengembangan produk perusahaannya, karena itu pihaknya menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, seperti ITS.

"Beberapa bidang riset yang akan kami lakukan dengan ITS antara lain Marine Radar, Electric Support Measure (ESM), Radio Direction Finding (RDF) Receiver , Electronic Chart Display and Information System (ECDIS), dan Integrated Surveillance framework," katanya.

Menurut dia, perusahaannya telah melakukan riset ESM hampir 90 persen dan telah diuji di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Pengawasan laut yang belum optimal, karena keterbatasan fasilitas menjadi dasar bagi Solusi 247 untuk mendalami aplikasi teknologi produk itu di bidang maritim," katanya.

Hingga saat ini, persoalan mengenai kecelakaan kapal, "illegal traffic", pencurian ikan, hingga pembajakan kapal nelayan menjadi masalah tak terpecahkan karena lemahnya aktivitas monitoring.

"Oleh karena itu, kami mengajak ITS, kami memiliki pengetahuan tentang sensor dan radarnya, sedangkan ITS punya pengetahuan di bidang maritim dan perkapalannya," katanya.

Beno mengatakan ITS adalah mitra yang sangat sesuai untuk melaksanakan kerja sama ini, karena ITS unggul di bidang maritim, lalu keberadaan sentra nelayan, pelabuhan internasional, dan armada pertahanan laut di Surabaya juga menjadi nilai tambah tersendiri.

Senada dengan itu, Prof Dr Darminto mengatakan kerja sama itu bukan pertama kalinya ITS bekerja sama dengan pihak swasta.

"Kami berharap produk-produk yang dikembangkan nanti dapat benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat," katanya.

Untuk tahap awal, kerja sama akan dilangsungkan selama dua tahun. "Tidak perlu kita menggunakan produk asing untuk aplikasi ICT di Indonesia. Lebih baik kita buat sendiri dan kita kuasai teknologinya," katanya. (ANTARA News)

Monday, May 6, 2013

Tahun depan, TNI AD tambah 16 Helikopter Bell-412 EP


TNI Angkatan Darat (AD) hari ini resmi menerima 6 Helikopter Bell-412 EP dari PT Dirgantara Indonesia (DI). Tahun depan rencananya, TNI AD akan menambah 16 unit lagi.

Berdasarkan kontrak jual beli, 6 helikopter ini dilego dengan US$ 6,5 juta. Sedangkan kontrak selanjutnya pada 2014 yakni 16 unit sebesar US$ 175.

Direktur PT DI Budi Santoso mengaku senang dengan kerja sama yang berkelanjutan ini. Dia berharap penyerahan helikopter mampu membawa pengaruh besar untuk tugas TNI AD yang semakin berat.

"PT DI sebagai penyedia selalu berupaya memenuhi kebutuhan yang diminta. Apalagi ini untuk kebutuhan pertahanan Indonesia," kata Budi, usai menyerahkan enam unit Helikopter Bell-412 EP, di Hanggar Rotary PT DI, Bandung, Jumat (15/3).

Wakasad TNI AD Letjen Moeldoko mengatakan, kebutuhan untuk ketahanan sifatnya tak terbatas. Karenanya dalam kesempatan itu yang juga hadir Komisi I DPR RI untuk terus mendukung.

"Pesanan ini dimaksudkan untuk perkuatan alutsista. Kami semua telah menyiapkan. Kami harap perkuatan alutsista semakin tinggi," katanya.

Pihaknya mengaku telah menerima 13 unit Helikopter Bell-412 dari PT DI. Rencananya kerja sama akan terus dilanjutkan hingga memenuhi kebutuhan 33 helikopter.

Di tempat sama Brigadir Jenderal Mochammad Afifuddin terus berangan-angan untuk terus menambah armada pertahanan khususnya TNI AD.

"Kebutuhan dalam waktu dekat yakni 4 skadron. Kebutuhan tidak dibatasi, sebanyak-banyaknya karena melihat kindisi negara yang berjauhan secara geografis," jelasnya.

Bahkan dia masih berangan-angan untuk mendatangkan pesawat canggih dari luar. Black Hawk. "Kita ingin terus tambah," ujarnya.

Helikopter tipe Bell 412 EP ini sendiri merupakan helikopter serbaguna yang ditenagai oleh sepasang engine, pratt dan whitney PT6T-3D dengan empat bilah rotor utama dan dua bilah rotor ekor. Helikopter ini termasuk kelas menengah diawaki 2 pilot dan co piloy serta 13 penumpang.

Keandalannya dalam operasi baik di Indonesia maupun negara lain, Heli ini mampu melaksanakan misi milter juga penerbangan sipil, operasi SAR, dan pemadam kebakaran.

Friday, May 3, 2013

PT DI dan Aviasi Kembangkan Pesawat Turbotrop


PT Dirgantara Indonesia (Persero) meneken kerjasama dengan PT Regio Aviasi Indonesia untuk mengembangkan pesawat terbang turbotrop modern berkapasitas 70-90 orang penumpang bernama Regioprop, di kantor PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jumat, 3 Mei 2013.

Direktur Utama PT Regio Aviasi Indonesia Agung Nugroho mengatakan, kerjasama tersebut bertujuan untuk mengembalikan kejayaan PT DI sebagai pembuat pesawat terbang dari ujung sampai ujung mulai dari desain hingga pemasaran. Selain itu untuk memberdayakan industri pesawat terbang asli produk Indonesia. 


“PT Regio Aviasi Indonesia posisinya sebagai sponsor dan PT DI sebagai strategi partner dan main contractor,” kata Agung kepada Tempo, Jumat, 3 Mei 2013.


PT Dirgantara Indonesia berfungsi sebagai strategi partner dan main contractor untuk menangani program sejak awal, perancangan, sertifikasi sampai dengan pembuatan pesawat serta serial dan melakukan pemasaran bersamda. Sementara PT Regio Aviasi Indonesia sebagai sponsor, marketing dan pengambangan program.


Program pengembangan akan dilakukan terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah pleminary design dan feasibility study, yang akan berlangsung selama kurang lebih satu tahun untuk definisiawal pesawat dan menyerap keinginan atau persyaratan customer. Tahap ke-dua, full scale development atau pengembangan skala penuh, terdiri dari detail design, prototype manufacturing dan sertifikasi. Tahap tersebut berlangsung sekitar empat tahun terhitung mulai 2014-2017 untuk mendapatkan sertifikasi nasional Kementrian Perhubungan. 


“Semoga di tahun 2018 sertifikasi turun dan bisa berlanjut ke tahap tiga yaitu serial production, penjualan dan layanan purna jual,” kata Agung.


Program yang ditargetkan rampung dalam lima tahun itu akan memanfaatkan pengalaman rancang bangun anak bangsa dalam mengembangkan pesawat terbang sejak 1979 – 1982 (CN35) dan 1989 – 1996 (N250), yang disesuaikan dengan tantangan kebutuhan pesawat di masa depan, akan transportasi dengan efisiensi dan keekonomian yang lebih baik, kenyamanan penumpang dan keandalan yang lebih tinggi serta ramah lingkungan. 


Selain itu, program tersebut juga dimanfaatkan untuk mengisi kebutuhan pasar di sektor pesawat regional (regional aircraft) pada kurun waktu 2018-2037 dan untuk mengambalikan kemampuan rancang bangun pesawat terbang di Indonesia. 


“Indonesia punya potensi untuk mengembangkan industri pesawat di Negara sendiri. Baiknya ya bangsa ini membuat pesawat untuk bangsanya sendiri untuk kebangkitan dirgantara nasional,” ujar Agung.


Program tersebut merupakan satu wadah untuk meneruskan cita-cita yang telah dirintis oleh PT DI dalam mengembangkan pesawat terbang secara bertahap, baik dari segi kapasitas, daya jangkau dan kandungan teknologi. Seperti program-program sebelumnya yakni,  NC212, CN235, N250, dan N2130. (Tempo)

Thursday, May 2, 2013

Kemampuan pertahankan kedaulatan harus sepadan wilayah

Ilustrasi - Pasukan Pendarat Ribuan pasukan pendarat Korps Marinir TNI AL mengikuti Gelar Pasukan Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2013, di Dermaga Madura Koarmatim, Ujung Surabaya, Jumat (26/4). Pada Latgab TNI 2013 yang akan digelar di empat daerah (Jakarta, Situbondo, Sangatta Kaltim dan Bima NTB) ini, TNI AL mengerahkan 16.745 prajurit dan ratusan alat utama sistem persenjataan (alutsista). (FOTO ANTARA/Eric Ireng)

Perairan Laut Jawa (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kemampuan untuk mempertahankan kedaulatan harus sepadan dengan luas wilayah yang dimiliki.

"Terus terang dibandingkan luas wilayah, mestinya kekuatan militer kita harus lebih besar dan modern, meski dengan judul `minimum essensial force`," kata Presiden saat mendengarkan paparan mengenai Latihan Gabungan TNI tahun 2013 di atas KRI Makassar 590 di perairan Laut Jawa menuju Situbondo dari Dermaga Ujung Surabaya, Kamis.

Presiden memaparkan kekuatan TNI harus siap untuk menghadapi tantangan kedaulatan wilayah kapan pun. Sistem persenjataan itu harus imbangi negara lain, bahkan harus lebih unggul. 

"Alhamdulillah sekarang ini kita punya kemampuan maka tanpa mengorbankan kepentingan lain maka bisa memodernisasi," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden mengatakan upaya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan nasional hendaknya tidak mengalami perlambatan karena masalah-masalah politik dalam negeri yang bisa menganggu stabilitas nasional.

"Mestinya bangsa ini bersatu jangan karena urusan politik A dan B maka hilang kesempatan (memperbaharui-red)," ujarnya, menegaskan.

Latihan Gabungan TNI tahun 2013, seperti yang dipaparkan oleh Komandan Latihan, Pangkostrad Letjen TNI Munir berlangsung selama 20 hari dan melibatkan secara langsung 13.294 personel.

Pada Kamis siang, di perairan Laut Jawa, di atas KRI Makassar dengan nomor lambung 590, Presiden menyaksikan kegiatan "screen exercise", "anti sub marine exercise", "cross deck exercise" evakuasi dan pemindahan barang, latihan bantuan serangan udara dan penembakan kapal.

Kepala Negara juga menyaksikan simulasi penembakan kapal penembakan dengan exocet MM40 blok II dari KRI Sultan Iskandar muda 367, penembakan rudal C802 dari KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355, dan terpedo SUT dari KRI Cakra 401 dengan sasaran ex KRI Teluk Semangka 512.

Turut menyaksikan, dalam KRI Surabaya dengan nomor lambung 591 yang berlayar di belakang KRI Makassar, Wakil Presiden Boediono. Sumber  : Antara
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...