Pages

Sunday, May 19, 2013

Ahli Radar UB: Swasembada Radar Untuk Indonesia

Radar mobil milik sebuah perusahaan telekomunikasi.

Jumlah radar yang dimiliki oleh Indonesia terbilang masih sangat sedikit dari 300 radar yang seharusnya dimiliki, Indonesia hanya memiliki beberapa radar. Kondisi ini membuat potensi ancaman dari negara lain menjadi sangat tinggi.

Untuk mengantisipasinya perlu digalakkan upaya swasembada radar untuk Indonesia. Demikian dikatakan oleh Ahli Radar dari Universitas Brawijaya Rudy Yuwono,ST.,MSc kepada PRASETYA On line, Rabu (4/7).
Swasembada radar merupakan upaya memproduksi radar dengan kemampuan anak sendiri yang saat ini sudah dimulai oleh Asosiasi Radar Indonesia (AsRI).

Dengan adanya swasembada radar, ada beberapa keuntungan yang akan diperoleh Indonesia, antara lain bisa menghemat anggaran di bidang alutsista dan menjaga kerahasiaan yang dimiliki oleh Indonesia terutama di bidang teknology.

"Ide swasembada radar hadir setelah adanya embargo militer kepada Indonesia. Pada saat itu Indonesia ingin membeli alutsista dari Amerika, tapi karena adanya embargo kita tidak bisa membeli alatnya bahkan komponennya,"kata Rudy yang juga merupakan Kabid Kegiatan Ilmiah AsRI (Asosiasi Radar Indonesia).

Radar ISRA buatan Anak Negeri

Beruntungnya dari embargo yang dilayangkan terhadap Indonesia, justru memunculkan ide untuk memproduksi radar sendiri.
Radar pengawas pantai buatan LIPI.

"Ide untuk memproduksi radar semakin ditunjang dengan adanya komponen-komponen yang bisa didapat dengan mudah di sejumlah daerah yang ada di Indonesia, seperti di Glodok Jakarta, Genteng Surabaya dan di Medan,"katanya.

Dengan memproduksi radar sendiri, maka anggaran yang dikeluarkan juga lebih sedikit. Jika biasanya Indonesia membeli radar dengan harga $25 juta, maka kalau memproduksi sendiri jumlah uang yang dikeluarkan akan jauh lebih sedikit.

"Sebagai upaya dalam swasembada radar, ada beberapa langkah Asosiasi Radar Indonesia (AsRI) yang saat ini tengah dilakukan, antara lain membantu tumbuhnya industri dalam negeri yang memproduksi radar dan juga menyediakan forum komunikasi dan pertukaran ide di bidang radar dan turunannya dengan mengadakan Seminar Radar Nasional setiap tahun,"kata Rudi menjelaskan.

Dalam upaya menciptakan tenaga -tenaga ahli yang mampu memproduksi radar, dikatakan oleh Rudy perlu dibangun sebuah school of radar.

"Jumlah tenaga ahli radar sangat sedikt jumlahnya. Kurang dari 100 di Indonesia, padahal radar yang dibutuhkan oleh Indonesia sangat banyak,"katanya.

Dengan berdirinya school of radar selain bisa mencetak ahli radar, juga bisa mengembangkan teknology yang lain, seperti teknology penginderaan jauh.

"Kalau kita memakai satelit, maka kandungan yang ada di dalam bumi nusantara Indonesia bisa diketahui oleh negara lain, namun kalau kita kembangkan teknology penginderaan jauh, rahasia kekayaan alam yang dimiliki Indonesia bisa kita jaga,"katanya.

Lebih lanjut dikatakan oleh Rudy bahwa produksi radar di Indonesia tidak akan memberikan ancaman bagi negara lain, seperti layaknya membuat nuklir dan bom atom.

Saat ini jumlah radar yang sudah diproduksi oleh Indonesia terbilang masih ada lima radar, yaitu: Indonesian Surveillance Radar (ISRA) yang berjumlah tiga dan Radar Indra yang jenisnya ada dua.

"Radar buatan Indonesia saat ini sudah bisa di fungsikan dengan menggunakan laptop dan gadget tablet,"katanya.

Rudy berharap bahwa program swasembada radar segera bisa terwujud.

"Program swasembada radar melalui school of radar sudah  menjadi topik bahasan penting dalam seminar nasional radar yang ke lima pada tahun 2011. Namun hingga saat ini masih belum terwujud. Semoga tahun 2025 sudah banyak pemain lain yang turut terlibat dalam swasembada radar,"kata Rudy. [Oky]


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...