Pages

Wednesday, May 22, 2013

Mahasiswa ITS Ciptakan "Curiosity" Kapal Otomatis pendeteksi limbah

Robot Curiosity menembakkan laser untuk mendapatkan data atom material penyusun batuan Mars.
(Ilustrasi).
Curiosity adalah robot milik NASA yang dikendalikan dari jarak jauh untuk melakukan sampling, pencarian data material penyusun tanah dan batu planet Mars, serta kemungkinan  adanya substansi air yang ada di sana. Jika Amerika mampu mengirimkan robot itu ke planet Mars untuk menganalisis material di planet itu, maka ada Mahasiswa ITS melakukan hal yang sama untuk "Curiosity" yang lain. Mahasiswa itu melakukan hal serupa di Bumi untuk menganalisis kondisi air dari jarak jauh.

Tentu saja apa yang dilakukan Curiosity NASA itu jauh lebih rumit dan jauh lebih maju dibandingkan dengan karya anak ITS ini. Jangan dulu dibandingkan, memang bukan levelnya. 

Tapi sebagai sebuah karya, apa yang telah dihasilkan oleh mahasiswa ITS ini patut diapresiasi. Meski tidak di Planet Mars, hanya dilakukan di Bumi, sepertinya karya ini secara prinsip mirip.

Mahasiswa Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) Syamsiar Kautsar menciptakan kapal katamaran yang dapat bekerja secara otomatis sebagai pendeteksi limbah industri.

"Selama ini, pihak Badan Pengendali Lingkungan harus masuk ke aliran sungai berlimbah dan juga seringkali ketahuan pemilik industri pencemar," katanya kepada ANTARA di Surabaya, Rabu.

Oleh karena itu, mahasiswa semester 8 PPNS itu pun mengembangkan tugas akhir dari dosen untuk pertukaran data jarak jauh antara komputer/laptop ke mikrokontroler.

"Saya mengembangkan tugas akhir itu menjadi aplikatif dengan membuat program Delphi 6.02 dalam komputer/laptop yang `connect` dengan kapal katamaran bio-waste," katanya.

Mahasiswa Program Studi Otomasi pada Jurusan Teknik Kelistrikan PPNS itu menjelaskan program dalam laptop itu dapat mengendalikan dan menerima data dari kapal katamaran bio-waste dalam jarak 300 meter.

"Dengan begitu, kapal itu dapat bekerja secara otomatis untuk mengambil sampel air sungai yang diduga mengandung limbah berbahaya, lalu air sampel itu diteliti di laboratorium," katanya.

Hal itu, katanya, terjadi karena pergerakan kapal katamaran bio-waste itu dikendalikan dari jauh melalui program Delphi 6.02 di dalam laptop itu, termasuk saat mengambil air 250 mililiter.

"Karena itu, peneliti dari Badan Pengendali Lingkungan tidak perlu bersusah payah terjun ke sungai atau menggunakan rakit untuk mengambil air sampel yang justru mudah ketahuan," katanya. 

Ia menambahkan karyanya yang selesai dalam empat bulan dengan biaya Rp7 juta itu merupakan kerja sama dengan rekannya. "Saya yang membuat sistem otomasi, sedangkan teman dari UKM perkapalan yang merancang kapal," katanya. (Antara).

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...