Indonesia akan memiliki pabrik modul tenaga surya skala besar. Proyek ini melibatkan perusahaan modul surya asal Indonesia, PT. Swadaya Prima Utama (SPU), dengan perusahaan Kanada, Canadian Solar Inc.
Pabrik yang akan dibangun kedua perusahaan diklaim merupakan pabrik modul surya terbesar di Indonesia. "Kapasitas produksi sebesar 60 megawatt [MW]. Pabrik dibangun di Cikampek. Operasional segera jalan antara Febuari-Maret 2014," ujar M. Syafrie Syarief, Direktur Utama Swadaya.
Syarief menambahkan produksi modul akan memprioritaskan kepentingan nasional, terutama kebutuhan listrik di kawasan Indonesia timur. "Produksi lebih ke Indonesia. Di satu sisi pemerintah punya perencanaan yang bagus soal energi terbarukan listrik. Kalau nggak sekarang dikembangkan, bisa diserbu pemain asing," kata dia.
Soal komponen pendukung pembangunan modul surya ini, Syarief memang mengakui industri ini masih tergantung pada rantai pasokan dari China. Ia mengatakan industri modul tenaga surya hampir sepenuhnya mengandalkan pasokan dari negeri Tirai Bambu itu.
Namun demikian, pihaknya secara bertahap akan mengurangi ketergantungan itu. "Anggota asosiasi modul solar di sini sudah komitmen kandungan lokal 40 persen. Kami upayakan peningkatan volume kandungan lokalnya, biar ada efisiensi," jelas dia.
PT. SPU sebelumnya telah memiliki fasilitas modul surya dengan kapasitas produksi 25 MW. Namun perusahaan itu berinisiatif memperbesar kapasitas produksi untuk menyesuaikan kebutuhan pasar di masa mendatang. Dengan kapasitas produksi 60 MW itu membuka peluang Indonesia dalam mendominasi pasaer modul surya di Asia Tenggara.
"Kita hanya di bawah Thailand saja. Kami bisa saja suplai modul surya ke Vietnam maupun Thailand. Tapi tetap prioritaskan kepentingan nasional dulu," ujar Syarief.
Modul surya yang diproduksi pabrik itu juga nantinya telah bersertifikat Eropa, AS dan Indonesia (VivaNews).
YOGYAKARTA-- Pengembangan industri alat utama sistem persenjataan di Indonesia maju pesat. Penilaiain itu disampaikan Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta.
"Buktinya, salah satu alat utama sistem persenjataan (alutsista) produksi dalam negeri Panser Anoa, kini telah dipesan oleh Malaysia," katanya usai memberikan kuliah umum di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Jumat (5/10).
Selain itu, menurut dia, pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) juga akan mengembangkan pesawat tanpa awak atau nir-awak yang kegunaannya sangat mendesak di Indonesia.
Ia mengatakan Indonesia memiliki banyak gunung berapi serta luas lahan dan daerah pegunungan yang tidak bisa dijangkau manusia untuk melakukan sebuah penelitian.
Oleh karena itu, menurut dia, dalam waktu dekat akan diproduksi pesawat tanpa awak. "Pembuatan pesawat tanpa awak juga sejalan dengan pengembangan pesawat tempur yang bekerja sama dengan Korea selatan, termasuk pengembangan pesawat yang nanti dapat digunakan oleh Polri," katanya.
Menurut dia, sebelumnnya pengembangan teknologi dan industri alutsista seperti pesawat dan senjata di Indonesia terkesan tertinggal dari negara lain.
"Hal itu disebabkan perusahaan yang ada belum diberi kesempatan. Setelah presiden memerintahkan pengembangan alutsista produk dalam negeri, maka terlihat perkembangan yang sangat pesat," kata Menristek. (Republika.co.id)
JAKARTA -- Badan Pengembangan dan Penelitian Teknologi (BPPT), mengembangkan pesawat tanpa awak. Ternyata, pesawat ini banyak diminati baik perusahaan swasta maupun dalam negeri hingga instansi luar negeri meminati pesawat surveilance ini.
Menurut Chief Engineer BPPT Muhammad Dahsyat, pesawat nirawak tersebut dibuat masih untuk memasok kebutuhan di dalam negeri, seperti yang sudah dipesan oleh TNI sebanyak 3 unit untuk keperluan surveilance (pengawasan). Pesawat ini pun belum boleh dijual untuk umum.
Kalau dijual umum, kata dia, maka harus ada perjanjian dan persyaratan dulu. Termasuk, pelatihannya juga.
"Kalau kami pameran teknologi di Kemayoran, ada yang berminat dari luar negeri, tapi saya belum bisa menyebutkan dari mana. Yang jelas, instansi," ujar Dahsyat di Pameran Harteknas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Kamis (29/8).
Selain TNI, kata dia, perusahaan minyak swasta di dalam negeri pun tergiur untuk memesan pesawat ini. Namun, Ia tidak menyebutkan berapa harga dan siapa pemesannya tersebut.
"Oil company banyak yang minta untuk off shore,on shore. Mereka untuk mengamati kilang apakah ada permasalahan atau nggak," katanya. (Republika.co.id)
Dalam kunjungannya ke Jakarta awal pekan ini, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Chuck Hagel, melontarkan pengumuman istimewa: pemerinta
"Menyediakan helikopter kelas dunia kepada Indonesia merupakan contoh komitmen kami untuk membangun kapabilitas militer Indonesia," kata Hagel usai bertamu ke Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, di Jakarta 26 Agustus 2013.
Menhan Purnomo mengungkapkan pembelian heli tempur itu memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sudah tergolong usang. Hampir 20 tahun lebih, kata Purnomo, Indonesia belum membeli peralatan militer baru.
"Kami membelinya sebagai bagian dari upaya modernisasi peralatan perang militer Indonesia. Kami akui bahwa kualitas militer Indonesia masih rendah, oleh sebab itu akan terus diperbaiki," kata Purnomo.
Indonesia akan membeli Apache sebanyak delapan unit. Dalam satu paket, ungkap Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, delapan heli ini seharga US$500 juta (sekitar Rp5,4 triliun). Oktober 2014 sudah mulai tiba di Indonesia. "Pengiriman dilakukan bertahap. Lengkap dengan persenjataan dan suku cadang," kata Sjafrie.
Apache adalah helikopter tempur andalan Angkatan Darat AS. Seri AH64E yang dibeli Indonesia ini adalah varian terbaru yang mulai diproduksi pada 2012.
Dibuat oleh Boeing Co., helikopter ini memiliki sistem persenjataan dan pengintaian yang canggih, dan dilengkapi dengan radar Longbow Fire Control, perangkat lacak, dan sistem sasaran yang dibuat bersama dengan Northrop Grumman dan Lockheed Martin, ungkap harian The Wall Street Journal.
Selain mengumumkan penjualan helikopter Apache, Menhan Hagel pun mengutarakan pujian pemerintah AS atas membaiknya transparansi dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. "Kita harus mengupayakan kemajuan berikut atas isu yang penting ini demi mewujudkan hubungan yang lebih baik dalam bidang pertahanan," ujar Hagel.
Dia pun mendukung kerjasama militer kedua negara, baik di bidang pelatihan bersama dan pendidikan perwira. Bahkan, Hagel pun mendukung saran pembentukan asosiasi anggota TNI yang pernah berkuliah dan berlatih di AS, begitu asosiasi tentara AS yang pernah berlatih dan menempuh pendidikan di Indonesia.
Sikap AS atas Indonesia soal kerjasama di bidang pertahanan dan militer ini sangat bertolak belakang dari dua puluh tahun lalu. Dulu AS menjatuhkan embargo jual beli senjata dan pelatihan tentara atas Indonesia, sebagai hukuman atas kekerasan TNI atas warga di Timor Timur - yang telah berubah menjadi negara Timor Leste - pada dekade 1990an.
Hukuman dari AS itu membuat Indonesia sempat tidak berdaya dalam upaya modernisasi alutsista. Banyak peralatan perangnya, termasuk jet F-16, dibeli dari Amerika namun tak bisa dimutakhirkan karena embargo dari Washington. Kesulitan ini diperparah oleh krisis moneter 1997-1998 yang membuat pemerintah RI harus berhemat untuk beberapa tahun.
Sikap AS mulai berubah saat presiden George W. Bush, mencabut embargo penjualan senjata atas Indonesia setelah bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Korea Selatan pada November 2005. Di mata Bush, Indonesia mulai transparan dan menghormati HAM sekaligus menjadi salah satu mitra kunci kampanye perang melawan terorisme.
Lima tahun kemudian, 2010, AS membuka kembali kerjasama pelatihan dan pendidikan militer dengan Indonesia. Jual-beli alutsista AS dengan Indonesia belakangan ini kian intensif saat ekonomi RI sedang stabil dan Washington, sebaliknya, sedang berjuang mencari pendapatan yang banyak untuk mengatasi krisis anggaran.
Selain menjual helikopter Apache, AS pun telah mengumumkan hibah 24 unit jet tempur F-16 bekas ke Indonesia. Namun, jet-jet itu perlu dimutakhirkan dan Indonesia tetap harus membayar.
Pasar Alutsista
Dengan anggaran pengadaan alutsista untuk tahun ini sebesar Rp81 triliun, seperti yang diungkapkan Menhan Purnomo pada Januari 2013, Indonesia menjadi pasar idaman bagi negara-negara produsen senjata. Bukan hanya AS, Rusia dan negara-negara lain pun berminat.
Wakil Menhan Sjafrie mengungkapkan Indonesia sudah memesan sistem peluncur roket MLRS dari Brazil sebanyak 38 unit. Lalu tank Leopard buatan Jerman akan dikirim bertahap, mulai September 2013 hingga Oktober 2014. "Diharapkan sudah bisa hadir di parade [HUT TNI] 5 Oktober 2013," kata Sjafrie, yang juga mantan Panglima Daerah Militer Jakarta Raya.
Sejumlah perwira TNI AU mengamati pesawat tempur Sukhoi
Sebagai salah satu raksasa produsen alutsista tingkat dunia, Rusia pun bertekad tidak mau kalah dengan AS untuk semakin aktif menjalin kerjasama dengan Indonesia di bidang pertahanan. Kerjasama ini tidak sebatas jual-beli alat-alat utama sistem pertahanan (alutsista), namun juga latihan militer bersama dan rencana membuat proyek patungan industri alutsista, ungkap laman berita Russia Beyond the Headlines (RBTH).
Viktor Komardin dari perusahaan ekspor senjata-senjata Rusia (Rosoboronexport) baru-baru ini mengungkapkan, Moskow akan menjual perangkat sistem SAM sekaligus membantu mempersiapkan jaringan pertahanan udara. Saat ini, Indonesia hanya memiliki rudal-rudal pertahanan SAM (surface-to-air missile) jarak dekat.
Sejak 2003, Rusia telah mengirim 12 unit jet tempur Sukhoi ke Indonesia. Pengiriman empat unit lagi masih menunggu persetujuan lebih lanjut.
Moskow pun telah menjual sejumlah helikopter militer Mi-35 dan Mi-17 kepada Jakarta. Alutsista lain yang dijual Rusia ke Indonesia adalah kendaraan tempur lapis baja BMP-3F, kendaraan pengangkut personel BTR-80A, serta senapan serbu AK-102.
Untuk membeli persenjataan itu, Moskow pada 2007 memberi fasilitas kredit sebesar US$1 miliar kepada Jakarta. Kerjasama pertahanan di luar jual-beli persenjataan juga telah berlangsung, seperti menggelar latihan bersama memerangi perompak di laut antara pasukan Indonesia dengan Rusia pada 2011.
Rusia pernah menjadi pemasok utama alutsista Indonesia tempo dulu. Saat masih berbentuk Uni Soviet (USSR), Rusia menjual persenjataannya ke Indonesia tidak lama setelah kedua negara membuka hubungan diplomatik pada 1950. Di tahun-tahun awal, banyak pula personel angkatan laut dan udara Indonesia dikirim ke Uni Soviet untuk menempuh pendidikan.
Namun, hubungan itu terganggu di pertengahan dekade 1960an karena alasan-alasan politis. Kedua negara kembali melanjutkan hubungan di awal dekade 1990an, walau baru berjalan erat satu dekade kemudian karena saat itu masih terhalang beberapa faktor.
Contohnya, pembicaraan soal jual-beli jet tempur Rusia Sukhoi-30 ke Indonesia sudah berlangsung sejak 1997. Namun jual-beli itu baru disepakati pada 2003.
Eratnya kembali kerjasama pertahanan Rusia-Indonesia banyak terbantu berkat rengganggnya hubungan serupa antara Indonesia dengan Amerika Serikat di akhir dekade 1990an. Kerenggangan itu muncul setelah Washington menjatuhkan embargo penjualan senjata ke Jakarta karena menilai Indonesia saat itu melanggar Hak Asasi Manusia di Timor Timur, yang kini bernama Timor Leste sejak menjadi negara berdaulat pada 2002.
Embargo senjata AS ke RI itu, berikut suku cadang, berlangsung selama 1999-2005. AS mengakhiri embargo ketika Presidennya saat itu, George W Bush, menganggap Indonesia termasuk mitra penting memerangi terorisme.
Setelah mencabut embargo, AS pun terlihat aktif menawarkan mesin-mesin perangnya kepada Indonesia. Pada 2011, AS sepakat mengirim 24 unit jet tempur bekas tipe F-16 seri C/D blok 25 kepada Indonesia secara cuma-cuma, kecuali untuk biaya pemutakhiran (upgrade).
Pada akhir 2012, AS dan Indonesia berunding untuk jual-beli helikopter serbaguna UH-60 Black Hawk dan helikopter tempur AH-60D buatan Boeing.
Namun, belajar dari embargo AS itu, Indonesia membuka pintu kerjasama seluas-luasnya kepada negara lain, termasuk Rusia, agar tidak lagi bergantung kepada satu pihak dalam pengadaan alutsista. Maka, sejak itu, Indonesia tidak hanya kembali berbisnis senjata dengan AS, namun juga mempererat kerjasama serupa dengan Rusia.(Viva News).
Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia meluncurkan ponsel pintar Bandros atau Bandung Raya Operating System sebagai salah satu hasil penelitian unggulan.
"Ponsel ini dipakai untuk kegunaan khusus, salah satunya bisa diatur sebagai telepon antisadap," ujar Kepala Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) LT Handoko di Puspiptek Tangerang Selatan, Senin.
Sebagai ponsel pintar yang dapat diatur menjadi antisadap, maka ponsel ini hanya dipakai untuk kegunaaan khusus terutama untuk segmen pemerintahan.
Handoko menjelaskan bahwa LIPI membuat ponsel pintar ini sesuai dengan pesanan dan kebutuhan serta fungsi, dan ditujukan untuk pemerintah serta korporat.
Lebih lanjut Handoko memaparkan bahwa para peneliti LIPI mengembangkan piranti lunak Bandros pada awalnya ditujukan untuk pasien rumah sakit dan pemberian informasi perihal sistem peringatan dini.
Handoko sebagai ketua tim penelitian pengembangan Bandros menjelaskan bahwa ponsel cerdas tersebut menggunakan sistem operasi (OS) `open-source` berbasis Linux.
Penelitian sistem operasi ini baru dimulai pada 2010, dengan melakukan penelitian tergadap perangkat sistem tertanam.
Sistem operasi tersebut dia jelaskan sebagai pengembangan dari sistem operasi `desktop` yang sudah diciptakan sebelumnya.
"Sistem operasi Bandros dikenalkan kepada masyarakat diawali dengan pengembangan Stasiun Pemantau Cuaca," jelas Handoko.
Pengembangan sistem operasi ponsel ini dibiayai oleh APBN melalui Dipa Pusat Penelitian Informatika - LIPI, dengan dana awal yang direncanakan Rp250 juta namun pada akhirnya hanya sekitar Rp50 juta yang diberikan dengan alasan penghematan anggaran.(ANTARA News)
Purwokerto - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan bahwa PT Dirgantara Indonesia (DI) saat ini mencatatkan sejarah baru sebagai perusahaan yang paling sibuk.
"Sekarang ini PT DI sangat sibuk dan paling sibuk dalam sejarahnya," kata Dahlan saat memberikan kuliah umum bertema Agen Perubahan, di Gedung Roedhiro Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jumat.
Kondisi tersebut, kata dia, berbeda dengan PT DI di zaman Orde Baru.
Bahkan, PT DI sempat mengalami masa sulit ketika terjadi krisis moneter di tahun 1998.
Akan tetapi dalam kurun tiga tahun terakhir, lanjut dia, PT DI mampu membuat 65 helikopter dan ke depan akan membuat pesawat jenis C-295 yang saat ini masih dirakit di Spanyol oleh orang-orang Indonesia.
Menurut dia, PT DI juga memproduksi suku cadang pesawat terbang yang dipesan sejumlah perusahaan asing.
"Bahkan, berkat Komisi I DPR, PT DI tidak merugi dalam tutup buku kemarin," katanya.
Kendati demikian, dia mengakui BUMN yang bergerak di bidang industri kedirgantaraan ini sedang menghadapi persoalan pelik terkait minimnya sumber daya manusia yang menurutnya disebabkan banyak tenaga ahli perusahaan tersebut yang pergi ke luar negeri saat terjadinya krisis moneter.
Selain itu, kata dia, banyak tenaga ahli PT DI yang sudah berusia tua dan belum merekrut tenaga baru selama 10 tahun terakhir. (ANTARA News)
Atambua - Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta sejumlah perusahaan BUMN untuk siap mendapatkan kepercayaan dari TNI dalam pengadaan alat-alat sistem persenjataan.
"Pengadaan alat-alat persenjataan dalam negeri di bawah kementerian BUMN, PT DI, PAL, Pindad, Inti, harus siap mendapat kepercayaan TNI. Jangan sampai dipercaya tetapi tidak mengerjakan," kata Dahlan Iskan di sela-sela kunjungannya ke Kupang, Sabtu.
Ia mengatakan baru kali ini perusahaan BUMN mendapatkan pesanan alat-alat persenjataan dari Kementerian Pertahanan yakni 60 helikopter dan sembilan unit pesawat angkut CN-295.
"Dengan kebijakan modernisasi TNI saat ini, telah tersedia anggaran cukup besar. BUMN harus siap kalau ada pemesanan dari TNI," katanya.
Ia juga mengatakan bahwa produksi alat-alat pertahanan oleh perusahaan BUMN juga sudah mulai dikenal oleh negara lain seperti Filipina, Laos, Myanmar, serta Vietnam.
Sementara itu di Atambua, Sabtu siang, Dahlan Iskan meninjau ladang tanaman sorgum milik masyarakat yang dikembangkan oleh BUMN.
Masyarakat di Atambua mulai menanam sorgum dan memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan dengan menanam jagung, karena tanaman sorgum tidak memerlukan air dan seluruh bagiannya dapat bermanfaat untuk pangan, energi dan pupuk. (Antara News).
JAKARTA - PT Len Industri siap mengembangkan pemancar TV digital. Saat ini perseroan masih menunggu regulasi dari pemerintah.
"Kita masih menunggu peraturannya secara resmi dikeluarkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk pengembangannya kita anggarkan sekitar Rp 4-5 miliar," ujar Corporate Communication PT Len Industri, Boby Sumarsono di Jakarta, Rabu (21/8).
Dijelaskan Boby bahwa perseroan sudah berpengalaman membangun berbagai pemancar sejak tahun 1970. Sehingga bukan perkara sulit untuk PT Len menggarap proyek ini.
Bahkan, lanjut Boby, Len telah membuatkan berbagai pemancar bagi TVRI dengan harga Rp 2- Rp 3 miliar per unit. "Keunggulan kami adalah reliability dan pemancar TV analog TVRI sejak 1970-an itu masih berjalan sampai sekarang," terangnya.
Saat ini, pemancar TV digital sudah dibuat oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan PT Len Industri dan siap dijual. Namun belum diketahui harga per unitnya. "Kami juga memproduksi receiver yang akan dipasang di setiap rumah. Alat ini lebih handal dan tahan lama dibandingkan buatan China," kata Boby.
PT Len Industri didirikan sejak tahun 1965, LEN kemudian bertransformasi menjadi sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada tahun 1991. Sejak saat itu, Len bukan lagi merupakan kepanjangan dari Lembaga Elektronika Nasional, tetapi telah menjadi sebuah entitas bisnis profesional dengan nama PT Len Industri. Selama ini, Len telah mengembangkan bisnis dan produk-produk dalam bidang elektronika untuk industri dan prasarana. Len Industri juga lebih dari 30 tahun berpengalaman membuat ratusan pemancar TV dan radio yang telah terpasang di berbagai wilayah di Indonesia. Serta mengerjakan sistem persinyalan Kereta Api di berbagai jalur kereta api di Pulau Jawa.(chi/jpnn)
Mekah - Diam-diam selama akhir bulan Ramadan, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara berkunjung ke Mekah, Arab Saudi. Terbang ke Tanah Suci, misi Dahlan tidak cuma untuk beribadah umrah dan mengejar malam lailatul qadar (malam yang diyakini berlimpah ampunan Tuhan). Tapi, dia juga menemui pemilik kerajaan bisnis Saudi Binladin Group, Syekh Bakr bin Ladin. Demi misi ini bahkan Dahlan sampai tidak ikut rombongan Presiden SBY.Malam itu, malam 29 Ramadan atau 6 Agustus 2013. Dahlan menemui Syekh Bakr di hotel Fairmont, Mekah. Hotel ini menjulang tinggi persis di samping Masjidil Haram. Dari hotel itu Dahlan mengaku bisa melihat pusaran jamaah melakukan thawaf mengelilingi Ka'bah. Dari sana pula dia melihat bangunan besar di samping Masjidil Haram yang sedang dibongkar untuk dibangun kembali. Dahlan mengaku bangga melihat bangunan itu karena di bagian itu BUMN PT Waskita Karya (Persero) Tbk ikut berperan. Kebanggan itu dituangkan dalam tulisannya di blog pribadi Dahlan Iskan.
"Proyek ini didapat Waskita dari kontraktor utama Binladin. Tiap tahun ditargetkan seperempat pembongkaran dilakukan untuk dibangun kembali. Dengan demikian, seluruh Masjidilharam selesai direnovasi pada 2018. Berarti, selama itu pula Waskita terus bekerja di sana," begitu Dahlan menulis.
Dari kamar khusus Syekh Bakr itu Dahlan Iskan melihat semua aktivitas di Masjidil Haram dan sekitarnya terlihat sempurna. "Saya, Dirut Waskita Karya M. Choliq, dan manajer Waskita di Arab Saudi, sudah siap di kamar itu menjelang azan Isya. Kami ditemani beberapa staf inti Binladin Group." Termasuk adik kandung Syekh Bakr yang juga direktur keuangan grup itu.
Dahlan melakukan salat tarawih di sana mengikuti imam Masjidil Haram. Meski di hotel, ulama Saudi memang mengeluarkan fatwa bahwa hotel itu bagian dari Masjidil Haram.
Usai tarawih, Dahlan dan petinggi Waskita Karya akhirnya bertemu Syekh Bakr. “Di sini selalu diinginkan serbacepat. Proyek lima tahun kalau bisa selesai dalam dua tahun,” kata Syekh Bakr seperti dikutip Dahlan.
Ternyata Syekh Bakr juga sudah tahu maksud kedatangan Dahlan. “Waskita akan kami ikutkan di proyek perluasan Masjid Nabawi di Madinah,” tegasnya. “Kalau perlu, tidak hanya proyeknya. Juga sampai pemeliharaannya,” ujar Syekh Bakr lagi.
Yang membuat Dahlan Iskan terkejut adalah ucapan Syekh Bakr kepada para stafnya: "Tiap tahun beliau (Dahlan) harus menjadi tamu kita di sini, dan malam ini antarkan beliau ke atas!"
Lalu, Dahlan pun diantar menuju tower berbentuk jam raksasa yang disebut Jam Mekah di ketinggian 400 meter di puncak bangunan itu. Dari balik jam warna hijau itu Dahlan melihat seluruh penjuru kota, bahkan terlihat dari Mina dan Muzdalifah itu (tempat untuk beribadah haji). Inilah jam terbesar yang diletakkan di ketinggian tertinggi di dunia. Kalau Big Band London yang terkenal itu tingginya hanya enam meter, Jam Makkah ini 43 meter! (Baca pula: Popularitas Dahlan Iskan Samai Mahfud Md.) (Tempo.co)
Jumlah dana 8 milyar adalah sangat kecil dan irit jika yang dihasilkan adalah 8 unit bus ramah lingkungan. Bandingkan dengan harga satu 1 unit panser Anoa yang 3 milyar rupiah per buah. Atau truck trailer yang 4 milyar per unitnya (hanya kepalanya saja, belum termasuk kontainer dan wadahnya.
Jumlah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan manfaat besar dari promosi/branding bus listrik ini bahwa Indonesia telah berhasil membuat kendaraan listrik untuk skala massal yang bisa dikenal di seluruh dunia, pada saat bus-bus eco-green ini dipakai oleh seluruh kepala negara dan para pejabat tinggi negara-negara G-20.
Jumlah 8 milyar relatif murah mengingat Dahlan Iskan untuk membiayai riset, eksperimen, dan pembuatan prototipe mobil sport listrik Tuxuci saja menghabiskan dana 4 milyar Rupiah.
Jumlah itu juga relatif kecil jika dibandingkan dengan manfaat besar ke depan, yakni berapa banyak energi minyak bumi (bensin, oli, solar, dll) yang bisa dihemat, berapa triliun subsidi BBM yang bisa diselamatkan, berapa banyak ekonomi nasional yang bisa digerakkan dengan energi ramah lingkunan ini (karena seluruh komponen mobil nasional listrik ini dibuat di dalam negeri, maka dengan sendirinya menciptakan lapangan kerja untuk insinyur-insinyur kita, desainer-desainer mobil kita, tenaga penjual yang hidup dari komisi penjualan, dealer-delaer, dan lain-lain).
Menteri BUMN Dahlan Iskan tak ada kapoknya mengembangkan mobil listrik di Indonesia. Setelah mobil listrik tipe Ferrari, Tucuxi miliknya yang ringsek menabrak tebing, Dahlan kini mengembangkan bus
listrik. Bus listrik ini rencananya akan diperkenalkan pada ajang APEC, September nanti di Bali. Pembuat mobil listrik Dahlan, Dasep Ahmadi mengatakan bus listrik ini mempunyai 17 seat dan kini dalam tahap finishing.
"Bus itu 8 yang saya buat. Kapasitasnya 17 seat. Sekarang tahap finishing saja," ucap Dasep ketika ditemui merdeka.com di JCC, Jakarta, Senin (19/8) malam.
Menurut Dasep, untuk perakitan satu bus listrik menghabiskan dana sekitar Rp 1 miliar. Berbeda dengan Tucuxi, pendanaan pembuatan mobil listrik ini dilakukan oleh BUMN. Namin Dasep enggan mengatakan BUMN apa yang telah mengucurkan dananya.
"Ini dari BUMN, diatas 1 miliar satu mobil. Nanti buat BUMN itu. Semoga bisa selesai (sebelum APEC), harapan kita begitu," tutupnya.
Sebelumnya mobil listrik generasi ketiga Dahlan masih mengusung beberapa kelas, diantaranya kelas Ferarri, Alphard, serta bus listrik. Untuk kelas Ferarri, Dahlan memberi nama mobilnya itu Selo. Sedangkan untuk tipe Alphard Dahlan memberi nama Gendhis.
"Yang sekelas Ferarri kan Selo, kalau untuk kelas Alphard namanya Gendhis," kata Dahlan ketika ditemui di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (25/7) malam.
Dahlan tidak menjelaskan lebih jauh apa arti dan makna pemberian nama Gendhis untuk mobil listriknya. Sedangkan untuk bus listrik, Dahlan sama sekali belum memberi nama. "Bus-nya belum," katanya. (Merdeka.com)
Indonesia mulai menjadi perhatian bagi strategi pertahanan negara-negara di kawasan setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan akan menghabiskan anggaran pertahanan hingga Rp 150 Triliun antara 2010--2014.
Posisi Indonesia yang lama 'dipandang remeh' dalam isu senjata di Asia kini mulai berubah, kata pengamat Andi Widjajanto.
"Sekarang mereka lihat kalau Indonesia cukup serius dan pada akhir 2024 saya kira anggaran kita akan menjadi yang terbesar di ASEAN."
Selama ini, Malaysia dan Singapura selama bertahun-tahun selalu menjadi pemimpin terdepan dalam hal belanja senjata ASEAN.
Ketegangan di Laut Cina Selatan akibat adu klaim teritorial dengan raksasa Asia, Cina, telah memaksa Filipina dan Vietnam turut mengasah peralatan tempurnya.
Vietnam membeli berbagai senjata dari Republik Ceko, Kanada, dan Israel serta kapal selam dari Rusia. Bahkan Vietnam dikabarkan tengah memesan peluru kendali canggih dari India.
Sementara Filipina menargetkan pembelian dua kapal penyergap baru, dua helikopter anti kapal selam, tiga kapal cepat patroli pantai ditambah delapan kendaraan serbu amfibi hingga 2017.
Seluruhnya untuk mempertahankan wilayah Laut Filipina Barat yang diperebutkan dengan Cina.
Cina sendiri, tak usah ditanya.
Setelah memamerkan kegarangan kapal pengangkut sekaligus landasan pesawat (aircraft carrier) Liaoning, di perairan Dalian September lalu, Cina terus menumpuk perbendaharaan alutsista hingga total belanja melampaui USD100 miliar untuk pertama kalinya tahun 2012.
Paradoks ASEAN
Secara keseluruhan laporan Institut Internasional untuk Strategi Keamanan (IISS) London menyebut besaran belanja senjata di Asia 2013 meningkat 14% lebih dibanding tahun lalu.
Anomali sikap anggota ASEAN: diluar damai, di dalam berlomba membeli senjata.
Sebaliknya, angka belanja senjata di 26 negara Eropa terus turun seiring dengan krisis ekonomi yang belum pulih.
Asia tengah mengalami 'lomba senjata' tulis seorang pengamat dalam jurnal IISS.
Peningkatan signifikan angka belanja senjata sudah muncul tahun 2012, dan menurut IISS, belanja alutsista Asia mencapai $287 miliar atau naik kira-kira 8,6% per tahun.
Situasi ini tidak bisa dibilang lumrah, kata Andi Widjajanto.
ASEAN tengah menikati periode damai dengan tingkat pendapatan masing-masing negara terus meningkat dan hubungan antar negara yang makin matang.
Bahkan dalam dua tahun, 2015, 10 negara di Asia tenggara ini akan memasuki babak baru Komunitas ASEAN.
"Ini sebuah paradoks, ASEAN sangat damai tapi belanja senjata malah naik pesat," kata Andi.
Pencetusnya adalah ketidakpastian di Laut Cina Selatan yang membuar beberapa negara ASEAN terlibat langsung dalam konflik ini seperti Filipina dan Vietnam.
"Anggota melihat situasi damai justru sebagai kesempatan untuk untuk mengisi arsenal masing-masing," tambah doktor lulusan Universitas Pertahanan di Washington ini.
Perimbangan kekuatan
Untung lah tak ada ancaman langsung konflik Laut Cina Selatan terhadap Indonesia.
"Indonesia itu negara netral. Sepanjang (konflik) itu tidak menular ke perbatasan kita," kata Menhan Purnomo.
Sebaliknya Indonesia juga memahami ambisi Cina, tambah Purnomo, yang habis-habisan mendongkrak belanja senjatanya.
"Cina juga punya kelebihan uang, jadi dia harus melakukan modernisasi persenjataannya."
Yang penting buat Indonesia dan kawasan menurut Menhan adalah adanya perimbangan kekuatan sehingga tak ada satu pihak yang lebih dominan.
"Sebetulnya itu adalah balance of powerantara berbagai kekuatan di Pasifik. AS juga mengatakan: saya akan menempatkan 60% kekuatan di Pasifik pada 2020," tambah mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ini.
Anggota ASEAN, menurut PM Lee, merasakan hubungan yang sangat baik dengan AS dan Cina yang berakibat pada naiknya aktivitas ekonomi, investasi dan turisme.
Kedamaian diharapkan terus berlanjut agar ASEAN menikmati kemakmuran.
"Tapi semua ini bergantung pada satu hal: bahwa Cina dan AS tetap berhubungan baik," tandas putra pendiri Singapura, Lee Kwan Yew, ini.
"Supaya lebih mudah bagi kami untuk juga berhubungan baik dengan kedua negara."
Kartu
Yang penting dicatat dari situasi ini menurut peneliti isu pertahanan CSIS, Iis Gindarsah, adalah Indonesia perlu terus memodernisasi alutsista agar komitmen pada politik luar negeri yang bebas aktif terpenuhi.
"Itu hanya berlaku kalau kita punya kekuatan untuk melindungi diri sendiri. Tetap bebas aktif tanpa intervensi negara lain," tuturnya.
Konflik juga bukan semata-mata merugikan.
Indonesia yang sedang agresif mencari sumber alih teknologi persenjataan justru mendapat peluang dari Cina di tengah perebutan pengaruh ini.
TNI Angkatan Laut awal tahun ini mengkonfirmasi kontrak pembelian rudal C-705 untuk 16 (dari 40) kapal cepat rudal (KCR) buatan PT Palindo Batam dari Cina.
Dengan kontrak ini maka PT Pindad kelak akan punya peluang untuk turut memproduksi rudal di Cina dan di Bandung.
Gindarsah berpendapat justru di tengah konflik maka Indonesia lebih berpeluang memaksimalkan keuntungan dari hubungan dengan dua kekuatan adi daya dunia itu.
"Pemerintah harus pandai memainkan kartu sehingga menghasilkan kebijakan yang tidak eksplisit pro-AS atau Cina," kata Gigin.
"Kuncinya ada pada Indonesia karena lebih lebih banyak Indonesia yang tentukan bukan dua negara itu." (BBC Indonesia)
Awal Juli lalu, Menteri BUMN Dahlan Iskan berkunjung ke salah satu pabrik di Bogor. Pabrik tersebut memproduksi baterai lithium yang akan digunakan untuk mobil listrik garapan Dasep Ahmadi.
Saat itu Dahlan membangga-banggakan produk dari PT Nipress tersebut. Alasannya, dengan produksi baterai di dalam negeri, 50 persen persoalan mobil listrik teratasi.
Kekaguman Dahlan akan produk tersebut diuji. Apakah lithium made in Indonesia itu mampu menggerakkan mobil listrik? Penggagas mobil listrik Dasep Ahmadi mengaku, baterai tersebut akan dipasang di mobil listrik sejenis Alphard yang tengah digarapnya. "Kita sedang uji coba baterai itu, semoga langsung bisa," kata Dasep di Jakarta, Senin (19/8) malam.
Dasep sendiri belum bisa menjamin apakah baterai tersebut bisa maksimal digunakan di mobil listrik atau tidak. Dia juga mengaku belum mengetahui kapasitas dan lama waktunya pemakaian baterai lithium tersebut.
Dalam catatannya, Dahlan Iskan menegaskan bahwa mobil listrik memang harus menggunakan baterai lithium. Dengan lithium untuk kekuatan yang sama hanya diperlukan ukuran yang kecil, hanya 30 persen baterai biasa. Beratnya pun hanya sepertiga berat baterai biasa. Dan yang lebih penting: dengan baterai lithium proses charging-nya bisa cepat.
Waktu meluncurkan baterai lithium pertama made in Indonesia itu, Dahlan diperlihatkan seluruh proses pembuatannya, pengujiannya, laboratoriumnya, dan standarisasinya. Juga sistem modulnya. Ada modul untuk bus listrik, ada modul untuk mobil listrik jenis MPV, ada modul untuk city car, dan ada modul untuk mobil sport.
Modul itu ditentukan berdasar kesepakatan hasil diskusi ilmiah berkali-kali. Salah satunya Bambang Prihandoko dari LIPI yang disebut Dahlan ahli baterai paling top di Indonesia.
"Dengan adanya modul baterai lithium ini maka siapa pun yang ingin memproduksi mobil listrik tidak perlu lagi bingung. Terutama dalam penempatan baterainya. Ikuti saja standar modul yang ditetapkan produsen lithium tersebut," kata Dahlan.
Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan, pemerintah mendapat tawaran untuk dapat membeli sekitar 10 unit kapal selam dari Rusia. Jumlah ini di luar rencana pembelian tiga unit kapal selam dari Korea Selatan yang akan datang pada 2014. "Kapal selam dari Rusia sudah ada. Mereka membuka kesempatan karena kedekatan dengan kita," kata Purnomo saat ditemui di Istana Merdeka, Sabtu, 17 Agustus 2013. Purnomo tidak menjelaskan detail spesifikasi dan tawaran harga yang diberikan pemerintah Rusia untuk mendatangkan 10 kapal selam tersebut. Ia juga menyatakan, pemerintah belum bulat untuk menerima tawaran Rusia karena masih harus mempertimbangkan dan menghitung biaya. Selain harga kapal selam per unit, menurut dia, pemerintah juga harus mempertimbangkan besarnya biaya perawatan, pemeliharaan, perbaikan, dan kesiapan infrastruktur. Selain itu, hal lain yang menjadi pertimbangan adalah usia atau masa guna kapal selam tersebut."Kita tidak bisa tergesa, hitung dulu semua," kata Purnomo. Sedangkan untuk kapal selam dari Korea, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ini memaparkan, pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bertahan dan penangkalan ancaman. Sebagai negara yang memiliki orientasi kedamaian, Indonesia dinilai harus memiliki kemampuan teknologi dan senjata yang kuat. "Kita sedang survei pangkalan kapal selam, salah satunya di Palu." Pada 2024 meski belum memastikan sebagai negara terkuat, menurut Purnomo, Indonesia akan berada pada empat negara kuat di kawasan Asia Tenggara bersama Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bersama tiga negara ini, Indonesia akan membentuk ASEAN Defense Ministerial Meeting yang kuat dari ancaman kawasan luar. (Tempo.co)
Oleh : Dahlan Iskan Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari negara para mullah ini.
Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus menerus. Kalau awal tahun 2010 PLN masih mendapat jatah gas 1.100 mmscfd, saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 mmscfd. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil, belakangan redup kembali.
Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya. Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal PLN memerlukan gas sebanyak 1,5 juta mmscfd. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.
Maka saya memutuskan ke Iran. Apalagi upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depan. Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak tahun 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi. Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas, sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan inilah yang membuat perut PLN kembung selama ini.
Kebetulan Iran memang lagi memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran lagi membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah, di pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi? Bukankah Iran sudah lebih 20 tahun dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia? Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?
Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski Aseleuyah kota kecil ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal seperti Aseman Air terbang ke sini. Inilah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas dan petrokimia. Beratus-ratus hektar tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia dan instalasi pembuatan LNG.
Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu di saat Iran lagi diisolasi oleh dunia barat. Memang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya baru akan selesai dua tahun lagi.
Memang kalau saja Iran tidak diembargo proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepat. Namun Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah. Demikian juga Iran. Bahkan keperluan listrik untuk industri petrokimia itu Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.
Kemampuan membuat pembangkit listrik ini pun semula agak saya ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuh. Karena itu setelah meninjau proyek LNG saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya.
Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, tapi membuat keseluruhannya. Bahkan sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin. Baru 10 tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik ini. Sekarang Iran sudah memproduksi 225 buah turbin dari berbagai ukuran. Mulai dari 25 MW sampai 167 MW. Bahkan Iran sudah mulai ekspor turbin ke Libanon, Syria dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran ini merayakan produksi bladenya yang ke 80.000 buah!
Kesimpulan saya: inilah Negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Dari A sampai Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya. Dengan kemampuannya ini, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri. Bahkan untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama Iran tidak tergantung lagi ke pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemen lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawatnya sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemen dan GE. Bahkan sudah dipercaya oleh Siemen untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup melakukan pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ. Pabrik ini memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.
Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Itali, Jerman, Swiss dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin ini bisa mendapatkan lisensi dari Siemen.
Rupanya meski Iran membenci Amerika dan sekutunya tapi tidak sampai membenci produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. Ini jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan Coca-cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada dan seterusnya.
Intinya: dengan diembargo oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.
Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai dari pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan layang sampai pun ke industri dasar. Tidak ketinggalan pula industri mobil.
Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap-gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan 6 persen tahun ini. Mulai meningkat drastis dibanding tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran.
Kami mendarat di bandara internasional Imam Khomeini Teheran menjelang waktu shalat Jumat. Maka saya pun ingin segera ke masjid: sembahyang Jumat. Saya tahu tidak ada kampung di sekitar bandara ini. Dari atas terlihat bandara ini seperti benda jatuh di tengah gurun tandus yang maha luas. Tapi setidaknya pasti ada masjid di bandara itu.
Memang ada masjid di bandara itu tapi tidak dipakai sembahyang Jumat. Saya pun minta diantarkan ke desa atau kota kecil terdekat. Ternyata saya kecele. Di Iran tidak banyak tempat yang menyelenggarakan sembahyang Jumat. Bahkan di kota sebesar Teheran, ibukota negara dengan penduduk 16 juta orang itu, hanya ada satu tempat sembahyang Jumat. Itu pun bukan di masjid tapi di universitas Teheran. Dari bandara memerlukan waktu perjalanan 1 jam. Atau bisa juga ke kota suci Qum. Tapi jaraknya lebih jauh lagi. Di Negara Islam Iran, Jumatan hanya diselenggarakan di satu tempat saja di setiap kota besar.
“Jadi, tidak ada tempat Jumatan di bandara ini?,” tanya saya.
“Tidak ada. Kalau kita kita mau Jumatan harus ke Teheran (40 km) atau ke Qum (70 km). Sampai di sana waktunya sudah lewat,” katanya.
Shalat Jumat ternyata memang tidak wajib di Negara Islam Iran yang menganut aliran Syiah itu. Juga tidak menggantikan shalat dzuhur. Jadi siapa pun yang shalat Jumat tetap harus shalat dzuhur.
Karena hari Jumat adalah hari libur, saya tidak dijadwalkan rapat atau meninjau proyek. Maka waktu setengah hari itu saya manfaatkan untuk ke kota suci Qum. Jalan toll-nya tidak terlalu mulus tapi sangat OK: enam jalur dan tarifnya hanya Rp 4000. Tarif itu kelihatannya memang hanya dimaksudkan untuk biaya pemeliharaan saja.
Sepanjang perjalanan ke Qum tidak terlihat apa pun. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya gurun, gunung tandus dan jaringan listrik. Saya bayangkan alangkah enaknya membangun SUTET di Iran. Tidak ada urusan dengan penduduk. Alangkah kecilnya gangguan listrik karena tidak ada jaringan yang terkena pohon. Pohon begitu langka di sini.
Begitu juga letak kota suci Qum. Kota ini seperti berada di tengah-tengah padang yang tandus. Karena itu bangunan masjidnya yang amat besar, yang berada dalam satu komplek dengan madrasah yang juga besar, kelihatan sekali menonjol sejak dari jauh.
Tujuan utama kami tentu ke masjid itu. Inilah masjid yang luar biasa terkenalnya di kalangan ummat Islam Syiah. Kalau pemerintahan Iran dikontrol ketat oleh para mullah, di Qum inilah pusatnya mullah. Demokrasi di Iran memang demokrasi yang dikontrol oleh ulama. Presidennya sendiri dipilih secara demokratis untuk masa jabatan paling lama dua kali, tapi sang presiden harus taat kepada pemimpin tertinggi agama yang sekarang dipegang oleh Imam Khamenei. Siapa pun bisa mencalonkan diri sebagai presiden (tidak harus dari partai) tapi harus lolos seleksi oleh dewan ulama.
Tapi Sang Imam bukan seorang diktator mutlak. Dia dipilih secara demokratis oleh sebuah lembaga yang beranggotakan 85 mullah. Masing-masing mullah itu pun dipilih langsung secara demokratis oleh rakyat.
Dalam praktek sehari-hari ternyata tidak seseram yang kita bayangkan. Amat jarang lembaga keagamaan ini mengintervensi pemerintah. “Dalam lima tahun terakhir kita belum pernah mendengar campur tangan dari mullah ke pemerintah,” ujar seorang CEO perusahaan besar di Teheran.
Saya memang kaget melihat kehidupan sehari-hari di Iran, termasuk di kota suci Qum. Banyak sekali wanita yang mengendarai mobil. Tidak seperti di negara-negara di jazirah Arab yang wanitanya dilarang mengendarai mobil. Bahkan orang Iran menilai negara yang melarang wanita mengendarai mobil dan melarang wanita memilih dalam pemilu bukanlah negara yang bisa menyebut dirinya Negara Islam.
Dan lihatlah cara wanita Iran berpakaian. Termasuk di kota suci Qum. Memang semua wanita diwajibkan memakai kerudung (termasuk wanita asing), tapi ya tidak lebih dari kerudung itu. Bukan jilbab, apalagi burqah. Kerudung itu menutup rapi kepala tapi boleh menyisakan bagian depan rambut mereka. Maka siapa pun bisa melihat mode bagian depan rambut wanita Iran. Ada yang dibuat modis sedikit keriting dan sedikit dijuntaikan keluar dari kerudung. Ada pula yang terlihat dibuat modis dengan cara mewarnai rambut mereka. Ada yang blonde, ada pula yang kemerah-merahan.
Bagaimana baju mereka? Pakaian atas wanita Iran umumnya juga sangat modis. Baju panjang sebatas lutut atau sampai ke mata kaki. Pakaian bawahnya hampir 100 persen celana panjang yang cukup ketat. Ada yang terbuat dari kain biasa tapi banyak juga yang celana jean. Dengan tampilan pakaian seperti itu, ditambah dengan tubuh mereka yang umumnya langsing, wanita Iran terlihat sangat modis. Apalagi, seperti kata orang Iran, dari 10 wanita Iran yang cantik adalah 11! Sedikit sekali saya melihat wanita Iran yang memakai burkah, itu pun tidak ada yang sampai menutup wajah.
Sampai ke kota Qum, sembahyang Jumatnya memang sudah selesai. Ribuan orang bubaran keluar dari masjid. Saya pun melawan arus masuk ke masjid melalui pintu 15. Setelah shalat dzuhur saya ikut ziarah ke makan Fatimah yang dikunjungi ribuan Jemaah itu. Makan ini letaknya di dalam masjid sehingga suasananya mengesankan seperti ziarah ke makan Rasulullah di masjid Nabawi. Apalagi banyak juga oarng yang kemudian shalat dan membaca Quran di dekat situ yang mengesankan orang seperti berada di Raudlah.
Yang juga menarik adalah strata sosialnya. Kota metropolitan Teheran dengan penduduk 16 juta dan dengan ukuran 50 km garis tengah adalah kota yang sangat besar. Sebanding dengan Jakarta dengan Jabotabeknya. Tapi tidak terlihat ada keruwetan lalu-lintas di Teheran. Memang Teheran tidak memiliki kawasan yang cantik Jalan Thamrin-Sudirman namun sama sekali tidak terlihat ada kawasan kumuh seperti Pejompongan dan Bendungan Hilir. Memang tidak banyak gedung-gedung pencakar langit yang cantik, tapi juga tidak terlihat gubuk dan bangunan kumuh.
Kota Teheran tidak memiliki bagian kota yang terlihat mewah, tapi juga tidak terlihat ada bagian kota yang miskin. Teheran bukan kota yang sangat bersih tapi juga tidak terasa kotor. Di jalan-jalan yang penuh dengan mobil itu saya tidak melihat ada Mercy mewah apalagi Ferrari, tapi juga tidak ada bajaj, motor atau mobil kelas 600 sampai 1.000 cc. Lebih 90% mobil yang memenuhi jalan adalah sedan kelas 1.500 sampai 2.000 cc. Saya tidak melihat ada mall-mall yang besar di Teheran, tapi saya juga sama sekali tidak melihat ada pedagang kaki lima, apalagi pengemis. Wanitanya juga tidak ada yang sampai pakai burqah, tapi juga tidak ada yang berpakaian merangsang. Orangnya rata-rata juga ramah dan sopan. Baik dalam sikap maupun kata-kata.
Pemerataan pembangunan terasa sekali berhasil diwujudkan di Iran. Semua rumah bisa masak dengan gas yang dialirkan melalui pipa tersentral. Demikian juga 99% rumah di Iran menikmati listrik –untuk tidak menyebutkan 100%.
Melihat Iran seperti itu saya jadi teringat makna kata yang ditempatkan di bagian paling tengah-tengah al Quran: Wal Yatalaththaf!
Bagaimana Iran ke depan? Mengapa setelah lebih 20 tahun diisolasi dan diembargo Amerika Serikat Iran tidak kolaps seperti Burma, Korut atau Kuba?
Banyak faktor yang melatar belakanginya. Pertama, saat mulai diisolasi dulu kondisi Iran sudah cukup maju. Kedua, tradisi keilmuan bangsa Iran termasuk yang terbaik di dunia. Ketiga, Iran penghasil minyak dan gas yang sangat besar. Keempat, jumlah penduduk Iran cukup besar untuk bisa mengembangkan ekonomi domestic. Kelima, tradisi dagang masyarakat Iran sudah terkenal dengan golongan bazarinya.
Tradisi dagang itu tidak mudah dikalahkan. Pedagang selalu bisa berkelit dari kesulitan. Ini berbeda dengan tradisi agraris. Seperti Tiongkok, meski 60 tahun dikungkung oleh komunisme Mao Zedong yang kaku, penduduknya tetap tidak lupa kebiasaan dagang. Demikian juga warga Iran. Ini terbukti sampai sekarang pun. Setelah lebih 20 tahun diisolasi pun sektor jasa masih menyumbang sampai 40% GDP negara itu.
Penduduk Iran yang 75 juta orang juga menjadi kekuatan ekonomi tersendiri. Apalagi saat mulai diisolasi oleh Amerika tahun 80-an, kondisi Iran sudah tidak tergolong negara miskin. Kelas menengah di Iran sangat dominan. Inilah factor yang dulu membuat revolusi Islam Iran tahun 1979 berhasil menumbangkan diktator Syah Pahlevi. Keberhasilan itu disebabkan masyarakat di Iran didominasi kaum bazari. Pedagang kelas menengah. Yakni bukan konglomerat yang ketakutan ditebas penguasa, dan bukan pedagang kecil yang takut kehilangan tempat bergantung.
Belum lagi kekayaan alamnya. Iran adalah negara kedua terbesar penghasil minyak dan gas alam. Bukan hanya memiliki cadangan besar, tapi juga mampu melakukan drilling dan pengolahan sendiri. Tidak ada lagi ketergantungan akan teknologi drilling dan pengolahan.
Salah satu sumber gasnya, yang baru saja ditemukan, akan membuat negara itu kian berkibar. Di lepas pantainya, di Teluk Parsi, ditemukan ladang gas terbesar di dunia. Ladang itu setengahnya berada di wilayah Qatar dan setengahnya lagi di wilayah Iran. Tahun 1999 lalu Qatar sudah berhasil menyedot gas bawah laut itu dari wilayah Qatar. Kalau Iran tidak menyedotnya dari wilayah Iran tentu semua gas itu akan disedot Qatar. Karena itu Iran juga bergegas menyedotnya dari sisi timur. Tahun 2003 lalu Iran sudah berhasil menyedot gas itu dan akan terus meningkatkan sedotannya. “Tiga tahun lagi kemampuan Iran menyedot gas itu sudah sama dengan Qatar,” ujar CEO perusahaan gas di sana.
Untuk menggambarkan seberapa besar potensi gas itu baiknya dikutip kata-kata CEO yang saya temui di atas. “Seluruh gas Iran di situ harganya USD 12 triliun,” katanya. Ini sama dengan 12 kali seluruh kekuatan ekonomi Indonesia yang USD 1 triliun saat ini. “Kalau gas itu diambil dalam skala seperti sekarang baru akan habis dalam 200 tahun,” tambahnya.
Gas itu letaknya memang 3.000 meter di bawah laut, namun dalamnya laut sendiri hanya 50 meter. Secara teknis ini jauh lebih mudah pengambilan gasnya daripada misalnya gas bawah laut Indonesia di Masela, di laut Maluku Tenggara.
Memang masih ada kendala ekonomi yang mendasar. Defisit anggaran masih menghantui, subsidi masih besar, laju inflasi masih tinggi dan akses perdagangannya masih terjepit oleh sanksi Amerika. Inflasi yang tinggi itu akibat naiknya harga bahan makanan, gas dan BBM. Bahkan akibat inflasi itu Iran harus mencetak mata uang dengan pecahan lebih besar dari rupiah. Kalau pecahan rupiah paling besar Rp 100.000, real Iran terbesar adalah 500.000 real (1 real hampir sama dengan Rp 1). Bahkan ada juga real lembaran 1.000.000, meski penggunaannya hanya di lingkungan terbatas.
Seperti Indonesia, Iran juga merencanakan menghapus empat nol di belakang real yang terlalu panjang itu. Hanya saja penghapusan nol tersebut baru akan dilakukan setelah inflasinya stabil kelak. Itulah sebabnya pemerintah Iran kini mati-matian memperbaiki fondasi ekonominya. Tahun lalu parlemen Iran sudah menyetujui dilaksanakannya “reformasi ekonomi”. Sebuah reformasi yang sangat penting dan mendasar. Inti dari reformasi itu adalah menjadikan ekonomi Iran sebagai “ekonomi pasar”. Artinya harga-harga harus ditentukan oleh pasar. Tidak boleh lagi ada subsidi. Reformasi ekonomi itu ditargetkan harus berhasil dalam lima tahun ke depan.
Begitu pentingnya reformasi untuk meletakkan dasar-dasar ekonomi Iran itu, sampai-sampai Presiden Ahmadinejad berani mengambil resiko dihujat dan dibenci rakyatnya dua tahun terakhir ini. Subsidi pun dia hapus. Harga-harga merangkak naik. Ahmadinejad tidak takut tidak popular karena ini memang sudah masa jabatannya yang kedua, yang tidak mungkin bisa maju lagi jadi presiden.
Bahwa kini Iran memilih jalan ekonomi pasar sungguh mengejutkan. Alasannya pun “sangat ekonomi”: untuk meningkatkan produktivitas nasional dan keadilan sosial. Subsidi (subsidi BBM tahun lalu mencapai USD 84 juta), menurut pemerintah, lebih banyak jatuh kepada orang kaya. Karena itu daripada anggaran dialokasikan untuk subsidi lebih baik langsung diarahkan untuk golongan yang berhak.
Pemikiran reformasi ekonomi seperti itulah yang tidak ada di negara-negara lain yang diisolasi Amerika Serikat. Inilah juga faktor yang membuat Iran tidak akan tertinggal seperti Burma, Kuba atau Libya. Dengan bendera sebagai Negara Islam pun Iran tetap menjunjung tinggi ilmu ekonomi yang benar. Tradisi keilmuan di Iran, termasuk ilmu ekonomi, memang sudah tinggi sejak zaman awal peradaban. Inilah salah satu bangsa tertua di dunia dengan peradaban Arya yang tinggi.
Dalam situasi terjepit sekarang pun, tradisi keilmuan itu tetap menonjol. Iran kini tercatat sebagai satu di antara 15 negara yang mampu mengembangkan nanoteknologi. Iran juga termasuk 10 negara yang mampu membuat dan meluncurkan sendiri roket luar angkasa.
Di bidang rekayasa kesehatan, Iran juga menonjol: teknologi stemcell, kloning dan jantung buatan sudah sangat dikenal di dunia. Bahkan untuk stemcell Iran masuk 10 besar dunia.
Maka tidak heran kalau Iran juga tidak ketinggalan dalam penguasaan teknologi perminyakan, pembangkit listrik dan otomotif. Jangankan jenis teknologi itu, nuklir pun Iran sudah bisa membuat, lengkap dengan kemampuannya memproduksi uranium hexaflourade yang selama ini hanya dimiliki oleh enam negara.
AS kelihatannya berhasil membuat Burma, Korut, Kuba dan Libya menderita dengan embargonya. Tapi tidak untuk Iran. Ke depan posisi Iran justru kian baik, antara lain karena “dibantu” oleh Amerika Serikat sendiri. Sudah lama Iran ingin menumbangkan Saddam Husein di Iraq, namun selalu gagal. Perang Iran-Iraq yang sampai 8 tahun pun tidak berhasil mengalahkan Saddam Husein. Iran tidak menyangka bahwa Saddam dengan mudah ditumbangkan oleh AS.
Dengan tumbangnya Saddam Husein maka Iraq kini dikuasai oleh para pemimpin yang hati mereka memihak Iran. Banyak pemimpin Iraq saat ini adalah mereka yang di masa Saddam dulu terusir ke luar negeri, dan mereka bersembunyi di Iran. Bahkan saat terjadi perang Iran-Iraq dulu, mereka ikut angkat senjata bersama tentara Iran menyerbu Iraq.
Demokrasi yang diperjuangkan AS di Iraq telah membuat golongan mayoritas berkuasa di Iraq. Padahal mayoritas rakyat Iraq adalah Islam Syi’ah. Golongan Sunni hanya 40 persen, itu pun tidak utuh. Yang separo adalah keturunan Arab sedang separo lagi keturunan Kurdi. Ada kecenderungan keturunan Kurdi memilih berkoalisi dengan Syi’ah. Padahal yang golongan Arab itu pun masih juga terpecah-pecah ke dalam berbagai kabilah. Saddam Husein, misalnya, datang dari suku Tikrit yang jumlahnya hanya sekitar 10% dari penduduk Iraq.
Dengan gambaran seperti itu maka masa depan hubungan Iran dan Iraq tingg
al menunggu waktu yang tepat untuk menjadi amat mesra. Waktu yang tepat itu adalah ini: mundurnya AS 100% dari Iraq. Dan itu tidak akan lama lagi. Pekan lalu pimpinan Iraq sudah mengatakan “Iraq hanya perlu bantuan militer untuk menjaga perbatasan, bukan untuk urusan dalam negeri”.
Maka tidak lama lagi Iraq akan menjadi “negara ketiga” yang akan mengalirkan barang dari dan ke Iran. Dan kalau ini terjadi, masih ada gunanyakah Iran diisolasi?
Dahlan Iskan
CEO PLN
*Catatan Perjalanan Direktur PLN (sekarang menteri BUMN) Dahlan Iskan ke Iran, KE IRAN SETELAH 30 TAHUN DIEMBARGO AMERIKA