Pages

Tuesday, August 20, 2013

Garap 8 Bus Listrik, Dahlan Iskan habiskan 8 milyar Dana BUMN


Jumlah dana 8 milyar adalah sangat kecil dan irit jika yang dihasilkan adalah 8 unit bus ramah lingkungan. Bandingkan dengan harga satu 1 unit panser Anoa yang 3 milyar rupiah per buah. Atau truck trailer yang 4 milyar per unitnya (hanya kepalanya saja, belum termasuk kontainer dan wadahnya.

Jumlah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan manfaat besar dari promosi/branding bus listrik ini bahwa Indonesia telah berhasil membuat kendaraan listrik untuk skala massal yang bisa dikenal di seluruh dunia, pada saat bus-bus eco-green ini dipakai oleh seluruh kepala negara dan para pejabat tinggi negara-negara G-20.

Jumlah 8 milyar relatif murah mengingat Dahlan Iskan untuk membiayai riset, eksperimen, dan pembuatan prototipe mobil sport listrik Tuxuci saja menghabiskan dana 4 milyar Rupiah.

Jumlah itu juga relatif kecil jika dibandingkan dengan manfaat besar ke depan, yakni berapa banyak energi minyak bumi (bensin, oli, solar, dll) yang bisa dihemat, berapa triliun subsidi BBM yang bisa diselamatkan, berapa banyak ekonomi nasional yang bisa digerakkan dengan energi ramah lingkunan ini (karena seluruh komponen mobil nasional listrik ini dibuat di dalam negeri, maka dengan sendirinya menciptakan lapangan kerja untuk insinyur-insinyur kita, desainer-desainer mobil kita, tenaga penjual yang hidup dari komisi penjualan, dealer-delaer, dan lain-lain).  

Menteri BUMN Dahlan Iskan tak ada kapoknya mengembangkan mobil listrik di Indonesia. Setelah mobil listrik tipe Ferrari, Tucuxi miliknya yang ringsek menabrak tebing, Dahlan kini mengembangkan bus
listrik. Bus listrik ini rencananya akan diperkenalkan pada ajang APEC, September nanti di Bali. Pembuat mobil listrik Dahlan, Dasep Ahmadi mengatakan bus listrik ini mempunyai 17 seat dan kini dalam tahap finishing.
"Bus itu 8 yang saya buat. Kapasitasnya 17 seat. Sekarang tahap finishing saja," ucap Dasep ketika ditemui merdeka.com di JCC, Jakarta, Senin (19/8) malam.
Menurut Dasep, untuk perakitan satu bus listrik menghabiskan dana sekitar Rp 1 miliar. Berbeda dengan Tucuxi, pendanaan pembuatan mobil listrik ini dilakukan oleh BUMN. Namin Dasep enggan mengatakan BUMN apa yang telah mengucurkan dananya.
"Ini dari BUMN, diatas 1 miliar satu mobil. Nanti buat BUMN itu. Semoga bisa selesai (sebelum APEC), harapan kita begitu," tutupnya.
Sebelumnya mobil listrik generasi ketiga Dahlan masih mengusung beberapa kelas, diantaranya kelas Ferarri, Alphard, serta bus listrik. Untuk kelas Ferarri, Dahlan memberi nama mobilnya itu Selo. Sedangkan untuk tipe Alphard Dahlan memberi nama Gendhis.
"Yang sekelas Ferarri kan Selo, kalau untuk kelas Alphard namanya Gendhis," kata Dahlan ketika ditemui di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (25/7) malam.
Dahlan tidak menjelaskan lebih jauh apa arti dan makna pemberian nama Gendhis untuk mobil listriknya. Sedangkan untuk bus listrik, Dahlan sama sekali belum memberi nama. "Bus-nya belum," katanya. (Merdeka.com)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...